Ad Vitam*

29 Feb

Akhir Oktober.

Ketika itu, saya sedang melaksanakan tugas jaga malam IGD di stase neurologi. Sesuai namanya–jaga malam neurologi–kegiatan saya tentu saja bersinggungan dengan pasien-pasien yang memiliki masalah pada bagian saraf.

Stroke, kelumpuhan, penurunan kesadaran, kejang, dan vertigo menjadi “menu makan malam” saya saat itu. Tapi ada satu kasus yang menarik perhatian saya.

Seorang pria muda, usianya tak terpaut jauh dengan saya, datang dengan keluhan nyeri kepala hebat dan rasa mual tak tertahankan. Pria ini, sebut saja AM, tampak sakit berat ketika saya anamnesis. Ajaibnya, AM masih mau meladeni saya dan teman saya dengan sikap yang sangat baik. Sambil menahan rasa sakit, ia mau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dokter muda ini (yang seringkali tak tentu arah dan menyimpang jauh dari penegakkan diagnosis). Luar biasa. Jika saya ada di posisi dia, jangankan menjawab sejumlah pertanyaan,  didekati sedikit saja mungkin saya bisa merutuk habis-habisan.

Berbekal anamnesis dan pemeriksaan fisik, tidak lupa catatan rekam medis yang dibuat oleh residen, kami mengetahui penyakitnya: karsinoma nasofaring stadium 4 dengan metastasis ke saraf kranialis. Karsinoma nasofaring, suatu keganasan di daerah kepala leher yang cukup banyak ditemukan di Indonesia (definisi menurut buku ajar THT). Sel-sel ganas itu telah menyebar di tubuh AM hingga ke saraf, menciptakan kelumpuhan yang nyata pada otot penggerak bola matanya.

Di tengah kesakitan yang dideritanya, AM tetap menunjukkan sikap kooperatif. Setiap harinya, saya dan teman lainnya menyempatkan diri untuk melakukan follow-up atas kondisi anak muda ini. Mulai dari bertanya seputar penyakitnya, perasaannya, hingga kesehariannya.

Saya tidak akan menyangkal jika dikatakan rasa ingin tahu saya agak berlebihan terhadap pasien yang satu ini. Ya, saya tidak memungkiri, simpati saya mendominasi–sebuah sikap yang seharusnya dihindari oleh seorang dokter. Saya terus bertanya-tanya dalam hati.

Bagaimana mungkin anak muda seusia saya menderita penyakit seberat ini?

Bagaimana perasaannya?

Bagaimana hari-harinya?

Apa kabar mimpi-mimpinya?

Apa perasaan kedua orang tuanya melihat putra mereka terbaring seperti ini?

Ditemani kedua orangtua yang sangat sangat sabar, AM menjalani hari-harinya di rumah sakit. Hingga ketika saya sudah selesai melewati stase neurologi, mahasiswa sebuah universitas swasta itu masih terbaring di bangsal onkologi. Sesekali saya mencuri lihat ke kamarnya, yang relatif jauh dari tempat saya bertugas saat itu. Untuk sekedar mengetahui keberadaannya, melihat apakah masih ada raut kesakitan di wajahnya, mencermati kelelahan yang tergambar di paras kedua orangtuanya.

Beberapa minggu kemudian, AM tampaknya sudah meninggalkan ruang rawat. Tempat tidurnya sudah diisi oleh orang lain, status kesehatannya pun tidak lagi bertengger di rak rekam medis bangsal. Ada sedikit kelegaan sekaligus harapan. Semoga anak itu bisa membayar hari-hari yang kemarin tersita. Semoga ia bisa kembali kuliah, berkumpul dengan keluarga yang menyayanginya, atau beraktivitas lagi selayaknya anak muda yang sehat.

*            *            *

Berbulan-bulan setelah itu, di akhir Februari, sebuah kabar menyentak malam saya yang damai di stase THT. Seorang teman yang sedang jaga malam mengabarkan bahwa AM kembali masuk IGD. Kali ini karena penurunan kesadaran dan kejang. Bukan hanya itu, teman saya juga mengatakan bahwa keadaan AM yang sekarang tidak lagi sama. Berubah. Total. Efek kemoradiasi yang dijalaninya untuk membunuh sel-sel ganas di tubuhnya.

Tubuhnya kurus lemah. Rambutnya menipis. Teman saya tidak akan mengenalinya jika saja tidak melihat ayah AM di sampingnya.

Saya penasaran! Semalaman saya memikirkan deskripsi yang diberikan oleh teman saya itu, menerka-nerka rupa AM saat ini.

Rasa ingin tahu dan simpati mendorong saya untuk mendatangi IGD keesokan harinya–yang berarti hari ini, tadi. Bersama seorang teman, kami nekat ke IGD walau tidak ada kepentingan apapun di sana.

Sayangnya, tempat AM terbaring semalam tiba-tiba kosong. Tidak hilang akal, kami menuju meja residen neurologi, melihat-lihat buku laporan jaga. Setelah mencari-cari, akhirnya diketahui AM telah dipindahkan ke ruang rawat inap bagian neurologi.

Sempat ragu pada awalnya, tapi kami memutuskan untuk tetap pergi melihat keadaan pasien kami berbulan-bulan yang lalu itu.

Sampai di bangsal neurologi, saya pun berpapasan dengan ayah AM. Sempat tidak yakin, tapi tidak salah lagi, beliau ayahnya. Lelaki paruh baya itu tampak lebih lelah dari saat terakhir saya melihatnya. Gontai, ia berjalan menunduk masuk ke sebuah kamar. Kami mengikutinya dalam diam dan akhirnya tampaklah sosok yang kami cari, AM.

Tapi kami tidak lantas masuk ke ruangan itu. Bingung harus berbuat apa berhubung kami tidak punya kepentingan di sana. Setelah mengamati dari pintu dalam waktu yang lumayan lama, muncullah residen yang akan melakukan visite. Kebetulan! Kami langsung mengekornya sambil berharap residen ini tidak bertanya macam-macam perihal keberadaan kami.

Inilah  dia. AM.

Ia terbaring lemah dengan penampilan yang sungguh berbeda. AM yang dulu saya anamnesis adalah cowok ganteng yang menjadi idola di kampusnya. AM yang dulu saya periksa adalah anak muda dengan banyak teman yang sering menjenguknya.

AM yang sekarang terlihat sangat berbeda. Efek kemoradiasi membuat tubuhnya begitu kurus. Rambut ikalnya yang hitam kini hanya tersisa beberapa helai. Matanya terlihat lebih cekung dan kulitnya tampak lebih gelap dari dulu. Saya nyaris tidak mengenalinya. Berkali-kali saya coba meyakinkan diri dengan memandangi papan nama pasien di depan tempat tidurnya. Tidak ada yang berubah setiap kali saya memandangnya. Masih identitas yang sama.

Terkejut, itu sudah pasti! Tapi kejadian berikutnya semakin mengiris hati saya.

AM tiba-tiba terbangun. Dikelilingi oleh ayah, ibu, dan kakak laki-lakinya, AM tampak bingung pada awalnya. Sesaat kemudian ia duduk, meminta minum pada ibunya. Meski sudah diberikan air lewat nasogastric tube (selang makan), AM tampak tidak puas. Ia terus merengek meminta minum. Keadaan delirium membuatnya semakin gaduh gelisah. Ia juga meminta ikatan di tangannya dilepaskan, meminta ke toilet, meminta selang makannya dibuka, dan banyak mengeluarkan racauan lainnya.

Keluarganya terlihat begitu sabar menghadapi AM. Pelukan, ciuman, dan ucapan-ucapan penuh kasih sayang tak sungkan mereka berikan untuk AM.

AM masih terus meracau, sesekali menangis dan merengek agar ikatan tangannya dilepas. Keluarganya masih terus setia berada di sampingnya.

Benar-benar AM yang berbeda.

Beberapa menit berlalu dan saya merasa sudah tidak sanggup melihat pemandangan di depan saya ini. Dengan berjuta tanya di kepala, saya dan teman saya memutuskan meninggalkan ruangan itu.

Banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin saya tanyakan pada AM, pada keluarganya.

Bagaimana keadaannya sejak terakhir keluar  dari rumah sakit?

Bagaimana aktivitasnya selama ini?

Apakah teman-teman dan pacarnya masih setia menjenguknya?

Bagaimana perasaan kedua orang tuanya? (lagi)

Banyak sekali pertanyaan menghantui saya. Apalagi begitu menyadari bahwa prognosis kesembuhan AM sangatlah kecil. Tidak banyak pasien KNF stadium akhir yang dapat bertahan, hanya belasan persen. Saat ini AM hanya dapat menjalankan terapi paliatif untuk memaksimalkan kualitas hidupnya. Tidak ada terapi untuk menyembuhkannya.

Saya benar-benar terenyuh. Saya menyesal karena rasa ingin tahu yang besar ini ternyata begitu menyiksa pada akhirnya.

Profesi ini, bekerja di tempat seperti ini, memang bukan cara yang tepat untuk mencari keadilan.

Saya tidak habis pikir. Kenapa harus AM yang sakit seperti itu? Anak muda baik-baik, dari keluarga baik-baik, terdidik secara baik-baik, memiliki teman yang baik-baik. Kenapa harus dia? Kenapa di usia semuda itu? Di saat orang seusianya sedang berjuang meraih mimpi-mimpinya, dia harus berjuang mempertahankan nyawanya.

Kenapa bukan orang-orang jahat saja yang diberikan penyakit semacam itu? Pencopet, pemakai narkoba, koruptor, siapapun yang jahat di muka bumi ini! Kenapa?!

 

-untuk AM dan semua pasien yang bergulat dengan waktu untuk memperjuangkan kehidupan- 

 

*Ad vitam adalah bahasa latin yang artinya “untuk hidup”. Istilah ini digunakan dalam ilmu kedokteran untuk mengungkapkan prognosis, suatu prakiraan atas kondisi kesehatan pasien. Prognosis ad vitam berarti prakiraan mengenai hidup mati pasien.

2 Tanggapan to “Ad Vitam*”

  1. Grace 7 Desember 2014 pada 5:38 pm #

    Hai,
    Nama saya Grace. Saya baru saja membaca tulisan Anda di blog Anda mengenai pasien KNF. Dulu saya dan teman saya pernah punya pasien seperti AM dan dia dapat bertahan beberapa minggu walaupun pada akhirnya kematian harus menjemputnya. Cerita Anda kembali mengingatkan saya mengenai dia, si tuan senyum manis.
    Terima kasih sudah mau berbagi.
    Salam kenal!

    • cinthyayuanita 7 Desember 2014 pada 6:05 pm #

      Halo, Grace. Salam kenal! Terima kasih ya, sudah baca. Terima kasih juga sharing pengalamannya.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: