Di Bawah Rinai Hujan

26 Feb

Saras menyusuri tepi lapangan basket yang sepi dengan tergesa-gesa. Sesekali ia menatap ke atas, berjaga-jaga pada mendung yang kian pekat. Tangannya mendekap berlembar-lembar makalah yang hendak dijilidnya di tempat fotokopian dekat lapangan.

Sebenarnya hujan bukanlah masalah besar bagi Saras. Ia menyukai hujan, mencintainya bahkan. Tapi tidak saat ini. Tidak di saat ia sedang terburu-buru menggenapi janji pada adik bungsunya. Bocah laki-laki itu akan tampil dalam drama musikal sekolahnya dan Saras terlanjur berjanji untuk hadir tepat waktu. Tapi, ia juga masih punya urusan dengan makalah “keramat” yang harus dikumpulkan besok pagi.

Gadis itu mengeluarkan handphone-nya yang bergetar. Ternyata ibunya, menanyakan posisi putri sulungnya itu. Sambil membalas sms, Saras terus berjalan ke depan tempat fotokopian langganannya itu.

“Mas Tuuuk….mau jilid doooong, mas!! Cepetan yaaa!! buru-bur … adduuh!!” celotehan Saras terhenti ketika ia menabrak seseorang. Gara-gara sibuk memusatkan pandangan ke ponselnya, ia jadi kehilangan fokus pada lapang pandang di depannya. Sialnya, beberapa lembar kertas makalah itu sekarang jadi bertebaran di lantai.

“Aduh! Eh, Saras?” sosok yang ditabrak Saras itu bersuara.

Saras yang sedang sibuk memunguti kertas di bawah segera mengangkat kepalanya. Ia merasa sangat sangat mengenal suara itu. Suara yang dulu begitu akrab di telinganya, menemani kesehariannya.

Benar saja! Suara nyaring itu, muka nyolot-tapi-manis itu, kemeja batik itu, ransel hitam itu …

“Kak Rama … ” ucap Saras, lebih seperti gumaman daripada sapaan.

Dua pasang manik mata itu lalu bertumbukan, tak terelakkan menyiratkan kecanggungan. Ada yang kemudian berkelebat menyesaki ruang memori keduanya. Mereka sama-sama tahu, mereka sadar betul bahwa ada hal-hal yang belum selesai di antara keduanya.

Beberapa tahun lalu, tepatnya ketika Saras masih menjadi mahasiswa baru di kampus ini, mereka memiliki hubungan yang cukup dekat. Rama dan Saras berada dalam organisasi yang sama sehingga mau-tidak-mau suka-tidak-suka mereka kerap kali bersua muka. Awalnya Saras menganggap senior yang satu ini sama seperti kakak kelas lainnya. Ah, ralat, awalnya justru Saras merasa senior ini agak menyebalkan.

Saras paham benar pepatah “Don’t judge a book by its cover“, tapi sepertinya hal itu tidak berlaku untuk manusia bernama Rama Ariadhani.

“Udah tau punya muka jutek kongenital*, kenapa sih ini orang nggak usaha buat perbaikin image-nya. Senyum dikit kek, sapa-sapa kek, basa-basi kek, atau apa lah gitu biar dibilang baik,” batin Saras 3 tahun lalu.

Tapi, beberapa bulan menghabiskan waktu dalam wadah organisasi yang sama rupanya mampu merombak total semua pencitraan Rama di mata Saras. Berkat beberapa kejadian, semua anggapan buruk tentang Rama seketika sirna. Rama yang jutek, songong, nyolot, nggak suka basa-basi kini berganti jadi Rama yang baik, peduli, dan ngemong. Setidaknya itu menurut Saras. Dan gadis itu  juga jadi membela Rama mati-matian jika yang bersangkutan sedang dibicarakan oleh teman-temannya.

“Dia itu sebenernya baik, kok. Emang sih mukanya itu ganggu banget. Tapi, kalo lo udah kenal, lo pasti sepakat sama gue kalo dia itu baik!” kira-kira itulah syair yang selalu Saras lantunkan saat membela Rama.

Entah bagaimana caranya, makin hari mereka berdua semakin dekat. Ada banyak kenangan yang rasanya tidak akan habis bila dituliskan satu per satu.

Sayangnya, setahun lalu, tiba-tiba seperti ada sekat membentang di antara kedekatan mereka. Ada tanda pembatas–yang Saras tahu betul–lebih dari sekedar batasan antara senior dan junior. Saras juga tahu, rentang yang kasat mata ini bukan disebabkan karena kesibukan akademis Rama yang mulai padat. Ada sesuatu. Sesuatu, yang kemudian menyentak Saras, memutar balik rotasi hidupnya. Rama telah memiliki seseorang di sampingnya, sejak lama, bahkan sebelum Saras hadir dalam hari-harinya.

Sejak itu, mereka bagaikan dua makhluk asing yang seolah tak pernah saling mengenal. Tidak ada lagi komunikasi, tidak ada lagi perbincangan kecil mengundang tawa, tidak ada lagi Rama untuk Saras. Namun, ketiadaan itu hanya berlaku secara fisik. Jauh di pusat alam emosi Saras, Rama masih tetap hidup, menyemarakkan harinya walaupun hanya dengan remah-remah kenangan yang tersisa.

“Mau fotokopi?” pertanyaan Rama seketika melunturkan lamunan Saras.

“Ng, iya, eh, nggak. Mau jilid kak,” jawab Saras pelan. Pertemuan ini seolah menyedot paksa energinya, bahkan untuk berbicara saja lidahnya kelu. Ia tidak siap dengan semua ini. Di saat Saras sedang berbenah merapikan kepingan-kepingan hatinya, manusia di hadapannya ini datang begitu saja menghablurkan semuanya lagi.

“Ng, lagi sibuk apa lo sekarang?” tanya Rama lagi, jelas sekali ada kecanggungan terselip di setiap kata yang diucapkannya.

“Gue sekarang kuliah aja sih, lagi ga ada kerjaan juga di organisasi,” Saras mencoba terlihat sesantai mungkin, walaupun dia tahu kepalsuan ini terasa begitu nyata.

“Oke, gue cabut duluan ya.”

“Oke kak.”

Sepeninggal Rama, Saras sibuk mengatur napasnya. Mas Tukirman, yang akrab dipanggil Mas Tuk, cengar-cengir memandangi gadis itu. Juragan fotokopian di kampus itu juga sempat menjadi saksi masa-masa kejayaan hubungan Rama dan Saras dulu.

“Cieee, neng Saras grogi, ya? Nih, makalahnya. Jangan bengong aja, udah mau ujan tuh,” seru Mas Tuk yang cuma dibalas senyum oleh Saras.

Masih gontai, Saras segera keluar dari tempat fotokopi itu. Sesekali didengarnya gemuruh di langit, pertanda awan mendung siap memuntahkan air bening ke bumi.

Tepat ketika Saras sampai di tepi lapangan, rintik-rintik hujan pertama mulai turun. Ia pun mempercepat langkahnya, tapi tak lama kemudian langkahnya terhenti mendadak. Dari kejauhan, tampak samar, di gerbang masuk Saras melihat sosok yang sama seperti yang ditemuinya beberapa menit lalu. Tidak salah lagi, itu Rama. Tapi, bukan itu yang membekukan Saras seketika. Di samping cowok itu, ada sosok yang selama ini hanya Saras kenal dari balik dunia maya. Perempuan yang selama ini hanya Saras temui pada tumpukan foto di jejaring sosial Rama. Perempuan yang hadir lebih dulu di kehidupan Rama, jauh sebelum dirinya datang. Perempuan yang menjadi jawaban atas jarak yang terbentang tiba-tiba.

Saras goyah. Lemas. Sekarang tenaganya benar-benar terkuras habis. Akhirnya tanya itu terjawab. Walau tidak mampu menjelaskan semua pertanyaan di benaknya, pemandangan di hadapannya ini sudah cukup memberikan alasan.

Bersamaan dengan itu, rintik hujan telah menderas. Laras bergeming. Bukan, bukan karena ia tidak punya cukup kekuatan untuk menepi. Ia memang tidak ingin menepi. Saras membiarkan dirinya kuyup, berharap hujan mampu melarutkan bulir bening yang perlahan membasahi pipinya, melarutkan gumpalan luka di hatinya.

Hujan kian renyai.

 

 

*kongenital : menunjukkan (cacat) bawaan sejak lahir

 

Teruntuk Novita Maheswi Pratiwi (navarthra.tumblr.com) :p

5 Tanggapan to “Di Bawah Rinai Hujan”

  1. Saras 26 Februari 2012 pada 11:58 pm #

    Wow. you played it well. thanks for make the details perfectly correct! :’) difilmin aja gimana nih? hehe :p

    • cinthyayuanita 27 Februari 2012 pada 2:06 am #

      uwooow saras muncul saras muncul!!
      i named you saras so you can be as strong as saras 008😛

  2. temennya Saras 10 Maret 2012 pada 3:46 pm #

    wow, bagus kakak

    • cinthyayuanita 10 Maret 2012 pada 3:51 pm #

      ardy juga mau dibikinin cerita juga?hahaaa
      kisah sama mbaklalu mungkin

      • temennya Saras 10 Maret 2012 pada 3:53 pm #

        ardy itu siapa ya? nama saya temennya saras

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: