Filter

5 Feb

Saya dibuat kagum oleh iklan sebuah alat pengolah air minum. Dalam iklan itu, seorang ibu tampak begitu memuji produk mutakhir tersebut. Bagaimana tidak? Kini untuk memperoleh air minum yang higienis, kita tidak perlu repot memasak air atau mengandalkan jasa toko air mineral galon. Cukup memasukkan air mentah ke dalam alat tersebut, tunggu beberapa menit, dan eureka! air siap minum pun tersedia di hadapan.

Saya tertarik dengan konsep praktis nan jenius semacam itu. Airnya memang tetap mentah, tetapi toh tetap saja bisa diminum tanpa menimbulkan efek samping (setidaknya dalam jangka pendek). Usut punya usut, air mentah itu tidak mengalir begitu saja dalam alat tersebut. Ada semacam filter yang bertugas menyaring segala macam kotoran, kuman, atau apapun yang sekiranya tidak layak masuk ke dalam tubuh manusia.

Saya lantas tertarik untuk menganalogikan alat tersebut dengan fragmen kehidupan (astaga, serius amat ya bahasanya!). Beberapa kali, atau lebih tepatnya sering kali, saya dihadapkan pada suatu situasi yang luput dari penyaringan. Maksudnya? Baiklah, kita ambil contoh sederhana saja. Misalnya, saya pernah bertanya baik-baik kepada seorang teman tapi malah dijawab dengan kata-kata pedas yang dikombinasikan dengan nada siap menerkam. Pernah juga ada seorang teman yang dibuat murka akibat celetukan seorang teman lainnya (yang mungkin bagi orang lain tidak menjadi masalah). Saya pun tentu pernah menjadi oknum yang melupakan fungsi filter. Meracau sekenanya ketika sedang kesal atau malah bicara tak karuan ketika sedang bahagia luar biasa.

Inti dari tiga contoh kasus yang saya bicarakan di atas sebenarnya sama: si pembicara tidak tahu bahwa perkataannya—yang dikira wajar—ternyata menyakiti orang lain. Perihal menyakiti-tersakiti ini bisa terjadi karena dua hal, entah itu sang lawan bicara yang memang sedang sensitif tingkat tinggi atau si pembicara yang lupa menyaring ucapannya. Seperti alat pengolah air minum tersebut, kita pun memiliki saluran keluar (dalam hal ini mulut) dan juga filter (yang dapat disamakan dengan nurani).

Bisa dibayangkan apa jadinya jika alat tersebut dijual tanpa filter di dalamnya? Meskipun wujudnya luar biasa indah, tetap saja tidak ada fungsinya. Tidak berguna. Tidak ada orang yang mau meminum air mentah dan berisiko mengalami gangguan pencernaan. Ujung-ujungnya, tidak ada yang sudi membeli alat semacam itu. Begitupun manusia. Apa jadinya jika manusia tidak mempunyai filter dalam dirinya. Tentu tidak ada yang berminat berkawan atau sekedar mendekat, takut terkena semprotan mahadahsyat.

Saya kemudian teringat akan materi fisiologi sistem saraf sensoris yang saya pelajari di tingkat satu. Dikatakan bahwa setiap manusia memiliki ambang rangsang yang berbeda-beda. Ada yang mudah merasa sakit, tetapi ada pula yang super kebal. Hal itu juga agaknya berlaku untuk ambang perasaan seseorang. Ada yang mudah sekali tersinggung, ada pula yang sangat amat tidak peka.

Maka, disitulah fungsi filter. Dengan memiliki fungsi penyaringan yang adekuat kita bisa belajar meraba-rasakan alam perasaan seseorang sebelum mengucapkan suatu hal. Kita bisa memilah-milah mana yang layak dikeluarkan atau mana yang hanya pantas dijadikan ampas.

Berangkat dari sebuah pariwara sederhana, saya jadi belajar untuk lebih memaksimalkan filter yang saya punya. Ah, atau mungkin saya bisa memulainya dengan membersihkan filter yang telah dilumuti oleh bilur-bilur kehidupan (astaga, lagi-lagi saya menggunakan majas hiperbolis).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: