Ketika Hidup Harus Memilih: Dr. Abdul Mun’im Idries, SpF

26 Jan

Bukan pekerjaan yang memilih kita, melainkan kita yang memilih mereka. Prinsip itulah yang mengantarkan pria kelahiran Pekalongan ini menjadi dokter ahli kedokteran kehakiman tiga dekade silam.

Kepakaran Mun’im dalam ilmu kedokteran forensik memang tidak diragukan lagi. Beragam kasus telah ditangani bahkan sebelum ia menyandang gelar spesialis. Tak dinyana, keterlibatan ayah lima anak ini di dunia kedokteran sesungguhnya tidak pernah direncanakan.

Impian menjadi dokter tidak pernah tebersit di benak anak keenam dari sebelas bersaudara ini, setidaknya sampai ia lulus dari bangku SMA. Mun’im muda berangan-angan untuk melanjutkan studi di jurusan kimia sebuah institut teknik ternama. Sayang, ia tak dapat mengejar cita-cita itu karena kondisi finansial keluarga yang tidak memungkinkannya kuliah di luar kota. Adik kandung Prof. Dr. dr. Dadang Hawari, SpKJ ini pun memantapkan hati pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tempat yang menjadi titik tolak perjalanan kariernya.

Sejak menjalani pendidikan dokter umum, sosok yang kerap menghiasi media ini telah menunjukkan minat yang sangat besar pada forensik. Ia beranggapan bahwa ilmu tersebut dinamis dan berbeda dari pengetahuan kedokteran lainnya. “Saya menyukai tantangan dan di sini saya melihat banyak tantangan,” ujar Mun’im. Dokter yang identik dengan jaket kulit hitam ini pun memilih untuk berkecimpung di Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Padahal, di saat bersamaan ia diterima oleh Departemen Ilmu Penyakit Dalam, spesialisasi favorit yang sulit ditembus kala itu.

Tetap Setia Menjalani Pilihan Hidup

Banyak pihak menganggap bahwa ahli forensik hanya berkutat dengan autopsi atau medikolegal. Namun, di mata Mun’im, dunia forensik jauh lebih luas dari sekedar itu. “Forensik memiliki peran yang penting, yaitu to protect society. Contohnya, kita harus bisa melindungi suatu kasus dari media apabila berpotensi menimbulkan keresahan masyarakat. Tugas kita adalah meminimalisasi jumlah korban, bukan malah menambahnya” tutur Mun’im.

Tantangan demi tantangan senantiasa memperkaya jam terbang dokter yang telah menulis lebih dari tiga puluh buku ini. Ia pun kemudian memahami bahwa hidup bukan hanya sebatas hitam atau putih, melainkan terdiri dari beraneka spektrum warna. Filosofi itu didapatnya setelah menemui berbagai macam kasus, mulai dari yang sederhana hingga memiliki tingkat kerumitan tinggi. Dari kasus-kasus itu pula ia berkenalan dengan beragam elemen masyarakat, dari pejabat negara hingga preman jalanan.

Dalam menjalankan profesinya, mantan anggota Tim Pencari Fakta Munir ini selalu mengacu pada prinsip logika tanpa emosi. Semua tindakan yang diambil harus berdasarkan rasionalitas, bukan perasaan. Contoh konkretnya adalah ketika ia tengah menjadi saksi ahli di persidangan. Mun’im tidak pernah sungkan menyampaikan kejujuran meskipun kadang dinilai kontroversial. Bagi sebagian orang, sikap seperti itu mungkin dapat disalahartikan sebagai perbuatan tidak etis.

Meskipun memiliki ritme kerja yang padat, Mun’im tidak pernah merasa terbebani oleh tanggung jawab tersebut. Sebaliknya, klinisi sekaligus akademisi ini senantiasa menjalani segalanya dengan konsistensi dan profesionalisme yang tinggi. Alasannya? “Ya … karena pilihan itu tadi. Jika kita yang memilih pekerjaan ini, seberat apapun itu pasti tetap akan terasa ringan,” tukasnya. Mun’im pun akhirnya membuktikan bahwa pilihan hidupnya tepat.cinthya.

-Rubrik Suka Duka. Desk Opini dan Humaniora. SKMA No. 02/XLI/Maret-April 2011-

Satu Tanggapan to “Ketika Hidup Harus Memilih: Dr. Abdul Mun’im Idries, SpF”

  1. addyn 12 Juni 2012 pada 9:01 am #

    salut sama pak. munim ni hebattt

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: