Menerjemahkan versus Menyerap

10 Jan

Jangan menerjemahkan sistem binomial nomenklatur dan nomina anatomika!

Pernyataan di atas bukanlah imbauan belaka, melainkan telah menjadi pedoman berbahasa kedokteran yang sudah sepatutnya digunakan khalayak luas. Prinsip tata bahasa tersebut lahir dari mufakat tiga negara yang tergabung dalam satu rumpun, yaitu Malaysia, Indonesia, dan Brunei Darrussalam. Kesamaan adat membuat ketiga negara itu menjalin kerjasama dalam hal kebahasaan dengan tujuan meningkatkan penggunaan bahasa Melayu di ranahnya masing-masing. Sejak tahun 1970-an, para pakar bahasa dari ketiga negara itu mulai merancang kesepakatan berbahasa, termasuk dalam segi ilmu kedokteran.

Di Indonesia sendiri penerjemahan istilah kedokteran, baik yang berasal dari bahasa Latin maupun bahasa Inggris, memiliki beberapa tujuan. Selain menjadi suatu usaha memperkaya perbendaharaan Kamus Besar Bahasa Indonesia, juga untuk memberikan pemahaman yang lebih sederhana. Dengan diterjemahkannya istilah kedokteran ke dalam bahasa nasional, diharapkan banyak pihak akan mendapat kemudahan. Masyarakat awam akan menjadi lebih akrab dengan dunia medis dan dokter pun tidak perlu pusing mencari padanan kata yang sesuai saat berkomunikasi dengan pasien.

Meskipun menyimpan keuntungan dan kemudahan, proses penerjemahan istilah kedokteran tidak bisa dilakukan begitu saja. Penerjemahan hanya boleh dilakukan dengan menuruti kaidah-kaidah yang berlaku. Tidak semua istilah bisa diindonesiakan secara mentah-mentah. Binomial nomenklatur dan nomina anatomika merupakan dua hal yang dianggap haram untuk diterjemahkan. Sebagai contohnya, kita kerap mendengar istilah “taju pedang” sebagai pengganti kata “processus xiphoideus”. Sebenarnya, tepatkah perubahan tersebut?

Dr. Sugito Wonodirekso, MS, seorang pemerhati tata bahasa di bidang kedokteran menegaskan bahwa proses penerjemahan tidak boleh dilakukan sembarangan. “Permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini adalah proses penerjemahan kerap disalahartikan sebagai pemindahan isi kamus sehingga membuat bahasa kedokteran kian menghutan,” ujar dokter yang juga menjadi anggota Pusat Pengembangan Bahasa Indonesia.

Sugito menekankan agar sebisa mungkin istilah anatomi dan binomial nomenklatur jangan diterjemahkan dari bentuk aslinya, kecuali bila istilah tersebut sudah sangat lazim digunakan. Untuk mempermudah pemahaman berbahasa, kita dapat menyiasatinya dengan cara menyerap istilah tersebut, misalnya “appendix vermiformis” bisa diserap menjadi “apendiks vermiformis” alih-alih diterjemahkan sebagai “umbai cacing” atau bahkan “usus buntu”.

Bila sudah ada kesepakatan bersama mengenai penyerapan bahasa, mengapa kita masih repot menciptakan istilah baru yang belum tentu sepadan dengan bentuk aslinya? Penerjemahan bukanlah satu-satunya jalan keluar mencapai kemudahan berbahasa. Setuju?cinthya.

-Rubrik Bahasa. Desk Opini dan Humaniora. SKMA No. 01/XL/Januari-Februari 2010-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: