Wujud Bakti Sang Akademisi

9 Jan

Bagi sebagian orang, melakoni dua peran yang bertolak belakang adalah sesuatu yang sulit, bahkan hampir mustahil. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi dr. Imral Chair, SpA(K). Beliau terbukti sukses menyelaraskan langkah dalam dua bidang yang begitu berbeda, pendidikan dan karier kedokteran.

 

Itulah gambaran yang tampak dari sosok dr. Imral Chair, SpA(K), atau yang akrab disapa dr. Imral. Ditemui di sela-sela kesibukannya, pria kelahiran Klaten ini bercerita panjang lebar mengenai perjalanan karier yang telah lama dilaluinya. Tidak banyak orang yang sanggup menjalankan dua amanah sekaligus. Akan tetapi, hal tersebut kelihatannya merupakan sebuah pengecualian bagi Imral. Selain masih menjalankan profesi sebagai dokter spesialis anak di RSCM, beliau kini juga menjabat sebagai wakil ketua Medical Education Unit (MEU) FKUI, sebuah lembaga yang mengatur berjalannya sistem pendidikan kedokteran di FKUI.

Bakti Imral di bidang pendidikan kedokteran tidak lantas membuatnya lupa akan profesinya sebagai dokter spesialis anak. Beliau aktif menjalankan kariernya di Departemen Anak RSCM dan senantiasa bersinggungan dengan masalah kesehatan anak. Ketika ditanya perihal pembagian porsi antara menjadi dokter dan akademisi, Imral langsung menjawab dengan bijak, ”Tidak ada yang perlu dibedakan. Keduanya sama-sama menyenangkan dan harus dijalankan sebagaimana adanya.”

Menjadi dokter adalah pilihan Imral selepas masa studi dari SMA Negeri 1 Budi Utomo. Cita-cita itu terbersit di benaknya bukan secara tiba-tiba, melainkan karena pengaruh seorang dokter spesialis bedah yang tidak lain adalah ayahnya sendiri. Meskipun memberikan inspirasi yang cukup besar, keputusan Imral menjadi dokter murni berasal dari dirinya sendiri. Ayahnya adalah seseorang yang menerapkan paham demokrasi dalam keluarga sehingga tidak pernah memaksa Imral untuk mengikuti jejaknya. Imral kecil kerap diajak ayahnya untuk mengunjungi pasien di rumah sakit ketika masih bermukim di Medan. Oleh karena itu, beliau tidak lagi asing dengan lingkungan kesehatan dan kedokteran.

Selama menjalani pendidikan di bangku kuliah, banyak kejadian-kejadian mengesankan yang dialaminya. Mulai dari masa perploncoan yang berat, persaingan di pagi hari untuk mendapatkan bangku kuliah, sampai persahabatan dengan rekan sejawat yang hingga kini masih terjalin. Ketika masih menjadi mahasiswa, Imral memiliki prestasi yang gemilang. Hal tersebut terbukti dari perekrutan dirinya menjadi asisten PPDS FKUI-RSCM meskipun saat itu masih berstatus dokter muda. Selepas menyelesaikan pendidikan dokter umum di tahun 1970, Imral langsung melamar menjadi PPDS di FKUI. Hatinya tertambat di Departemen Anak karena kecintaannya pada anak-anak. Akhirnya ayah dari empat orang anak ini pun resmi menyandang predikat dokter spesialis anak pada tahun 1975.

Sebagai orang yang telah malang melintang dalam dunia kesehatan anak, Imral paham betul masalah kesehatan yang sampai sekarang masih menghantui anak-anak di negeri ini. Penyakit infeksi dan kurang gizi dirasakan masih menjadi persoalan yang krusial dan membutuhkan penanganan khusus dari pemerintah. Memang telah banyak perubahan yang terjadi dalam hal perbaikan kualitas kesehatan anak, tetapi di sisi lain tetap masih banyak hal yang harus dibenahi.

Selain aktif di Departemen Anak, Imral juga berkecimpung di dunia pendidikan kedokteran. Keterlibatan Imral dalam dunia ini berawal dari keaktifannya di sebuah program yang diadakan oleh Departemen Pendidikan Nasional untuk sektor pendidikan tinggi. Program yang bernama Quality Improvement Integrated Education (QIIE) itu diperuntukkan bagi perguruan tinggi di Indonesia guna meningkatkan mutu lulusan universitas. Selepas mengambil bagian dari program tersebut, Imral pun langsung mengaplikasikan inovasi berupa kurikulum baru di almamaternya. Sejak saat itulah lahir Kurikulum Fakultas Kedokteran 2005, atau yang lebih dikenal sebagai Kurfak 2005.

Kemunculan Kurfak 2005 ibarat sebuat dobrakan untuk pendidikan di Indonesia yang selama ini monoton dengan metode teacher-centered. Kurfak 2005 membawa angin segar bagi pihak-pihak yang berkecimpung di dunia akademik melalui misi SPICES yang diusungnya. Upaya Imral menanamkan konsep Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di FKUI rupanya membuahkan hasil yang manis. Metode pengajaran baru ini mampu menelurkan mahasiswa-mahasiswa kedokteran Indonesia yang lebih mandiri dan terintegrasi.

Terlepas dari kesibukan menjalani peran ganda sebagai dokter dan wakil ketua MEU, Imral tetap dapat mengisi waktu luang dengan menyalurkan hobinya. Membaca dan menonton menjadi pilihan alternatif bagi beliau untuk mengusir penat. Imral tidak dapat menjawab dengan pasti ketika ditanya mengenai jenis tontonan yang disukainya. Ia menyukai segala jenis acara asalkan bisa menghibur. Sama halnya dengan menonton, Imral juga tidak memiliki spesifikasi khusus untuk bacaan kegemarannya. Segala jenis buku dapat ia jadikan pengisi kesenggangan, termasuk buku-buku kedokteran. Berbicara tentang buku kedokteran, Imral berpendapat bahwa membaca buku berbau medis memang menjadi kewajiban seorang dokter, mengingat tugasnya untuk belajar sepanjang hayat.

Di akhir perbincangan, Imral menuturkan harapannya untuk keberhasilan Kurfak 2005 yang akan terefleksikan melalui lulusan dokter pada tahun 2010 ini. ”Semoga rancangan pendidikan kedokteran yang baru ini bisa membawa Indonesia menuju arah yang lebih baik,” katanya.cinthya.

-Rubrik Suka Duka. Desk Opini dan Humaniora. SKMA No. 02/XL/Maret-April 2010-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: