Senyum Artifisial

9 Jan

Malam ini ditutup dengan kejadian yang kurang menyenangkan dan mood yang berantakan. Bukan masalah besar sebenarnya, hanya perihal instabilitas hormon yang mengombang-ambingkan perasaan.

Semuanya berawal dari pembicaraan singkat di sebuah aplikasi penyeranta. Lagi-lagi, pengalaman membuktikan bahwa sebuah tulisan singkat bisa melahirkan ambiguitas yang sangat berbahaya. Berbeda dengan bahasa lisan yang bisa menunjukkan secara jujur ekspresi sang pembicara, bahasa tulisan itu bisa dibilang abu-abu. Maknanya bisa berbeda-beda, tergantung interpretasi pembacanya. Itu yang terjadi pada saya, salah mengartikan makna.

Seorang teman mengirimkan pesan dengan kalimat–yang menurut saya–agak “dalem”. Saya, yang memang dasarnya sedang dipermainkan oleh duet esterogen dan progesteron, merasa terpukul membacanya. Sebenarnya kalau mau dibaca ulang, tidak ada yang salah dengan pesan dari teman saya itu. Oke, mungkin pesannya terkesan straight to the point dan tidak dibumbui dengan pelebur suasana semacam ‘hahahihihehe’ apalagi emoticon unyu. Dan bukankah memang semestinya begitu rumusan sebuah pesan? Singkat, padat, berisi. Jargon yang sudah ada bahkan sejak zaman kakek nenek kita bertukar surat cinta melalui telegram.

Tapi masalahnya, saya ini mungkin salah satu korban pelajaran PPKN di waktu SD. Saya begitu memegang teguh keyakinan bahwa menjadi orang Indonesia berarti menjadi orang yang ramah, saking ramahnya hingga kadang terlalu terpatri pada budaya basa-basi. Senyum sana sini, tunduk kanan kiri, sapa sini situ. Kebiasaan itu secara tidak sadar saya bawa hingga ke dunia teknologi komunikasi. Entahlah, menurut saya akan lebih sopan kalau kita tidak hanya membalas sebuah pesan dengan kata-kata yang kaku seperti bahasa robot. Menurut saya bumbu-bumbu keramahan itu penting dalam komunikasi tulisan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Saya jadi berpikir apakah prinsip yang saya anut itu benar atau malah sesat. Lantas kalau memang prinsip itu sudah tepat, apakah saya sudah konsisten menjalankannya? Bukan hanya sebatas komunikasi dunia maya, tetapi juga diimplementasikan di dunia nyata. Selama ini agaknya saya belum sepenuhnya berhasil membawa budaya basa-basi itu dalam kehidupan nyata. Seringkali saya justru dikalahkan egoisme dan kondisi emosional. Kalau diingat-ingat, kegiatan senyum sana sini, tunduk kanan kiri, sapa sini situ hanya saya lakukan saat mood saya sedang bisa diajak kompromi. Lalu, bagaimana jika sistem limbik (pusat otak pengatur emosi-red) saya sedang korslet? Otot-otot pipi ini rasanya beraaaaat sekali untuk sekedar membentuk lengkungan senyum. Dan ini beberapa kali terjadi, misalnya saja saat sedang mendengarkan cerita seorang teman. Di satu sisi saya memang sedang tidak ingin tersenyum, tapi di sisi lain saya juga memiliki tanggung jawab sosial sebagai seorang teman untuk memberikan penghargaan kepada orang yang bersangkutan. Dilema. Alhasil, senyum yang saya hasilkan adalah senyum artifisial. Palsu. Dibuat-buat.

Mungkin bukan hanya saya sendiri yang kerap berjibaku melawan kendali senyum artifisial. Kadang, secara tidak sadar kita berulang kali melakukannya dalam keseharian, atau malah menjadi korban emosi imitasi semacam itu. Terlepas dari niat untuk menyenangkan orang lain, yang namanya palsu itu bukanlah sesuatu yang baik, bukan.? Mungkin sama halnya seperti white lie, sebaik apapun niatnya berbohong tetaplah berdosa. Semanis apapun itu, senyum artifisial tetaplah tidak alami. Dan dari tulisan ini, saya mulai belajar untuk lebih tulus dan jujur. Bukan hanya soal senyum, tapi menyangkut setiap tingkah laku. Tulus, tapi tidak harus melewati batas. Jujur, tapi tidak harus menyakiti. Setiap perubahan harus selalu dimulai dari hal kecil, mungkin lewat bahasa tulisan di dunia komunikasi. Berat ya sepertinya, tapi PR di awal tahun ini harus bisa dikerjakan sebaik-baiknya. Semoga🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s