Membangun Visi Melalui Biografi

9 Jan

 Belajar tidak harus selalu diartikan dengan menenggelamkan diri dalam gunungan buku ajar atau perjuangan menahan kantuk di sela-sela kuliah.

Ungkapan “pengalaman adalah guru yang paling berharga” tampaknya masih menjadi jargon kebanyakan orang, khususnya mahasiswa kedokteran yang kerap bersentuhan dengan ilmu praktis. Pengalaman tak pelak lagi mengajarkan begitu banyak nilai-nilai bermakna, apalagi jika pengalaman tersebut berasal dari kisah nyata kehidupan seorang tokoh panutan.

Meracik Dokter Bintang Tujuh, Mewujudkan Dokter Hari Esok Indonesia adalah biografi yang menyajikan kisah kehidupan inspiratif. Memoar setebal 354 halaman ini mengulas setiap jengkal kehidupan Prof. dr. Ali Sulaiman, PhD, SpPD-KGEH, sosok yang sangat andal dalam bidang pendidikan kedokteran di Indonesia.

Nama Ali Sulaiman memang sulit dipisahkan dari perannya sebagai Dekan FKUI pada masa bakti tahun 1996-1999. Maka tidak mengherankan bila sebagian besar isi buku ini bercerita seputar pengalamannya dalam menjalani aktivitas kala itu. Segala hal yang berhubungan dengan jabatan yang diembannya dahulu dipaparkan secara gamblang dalam bab yang berjudul Menjadi Dekan FKUI. Melalui bab ini, Ali menuturkan pandangannya untuk menciptakan dokter-dokter yang memiliki kualitas bintang tujuh versi FKUI, bukan hanya five star doctor a la WHO.

Bagian lain yang juga mendapat porsi cukup besar dalam buku ini adalah curahan pemikiran sang profesor mengenai sejarah pendidikan kedokteran di Indonesia. Bab ini banyak bercerita perihal kilas balik pendidikan kedokteran sejak zaman penjajahan Belanda hingga era globalisasi saat ini.  Meskipun ada banyak cerita tentang perjalanan karier Ali Sulaiman, tema besar tentang kehidupan pribadinya tetaplah tidak dilupakan. Kisah masa kecil Ali hingga menjadi mahasiswa kedokteran turut pula mengisi lembaran-lembaran riwayat hidupnya. Bagian ini pula yang memiliki sisi humanis tertinggi mengingat begitu dalam pesan moral yang tersimpan. Ali yang sejak kecil memang bercita-cita menjadi dokter akhirnya bisa mewujudkan impian itu setelah melewati berbagai batu loncatan. Perjuangan itulah yang patut dijadikan contoh dalam menumbuhkan motivasi dan semangat kerja.

Ada satu hal yang cukup menarik dari buku ini. Pada bagian akhir ditemukan satu bab yang sangat istimewa berisikan kumpulan testimonial yang ditujukan bagi sang empunya memoar. Sederet nama turut memberikan kesan pesannya, mulai dari keluarga, rekan sejawat, mitra kerja, bahkan sejumlah guru besar. Riwayat ini bukanlah sekedar bahan informasi, melainkan juga sarana edukasi, khususnya dalam hal mencetak dokter Indonesia yang berkualitas di kemudian hari. cinthya.

-Rubrik Resensi. Desk Opini dan Humaniora. SKMA No. 04/XL/Juli-Agustus 2010-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: