Gema untuk Mei

9 Jan

 “Kepada para mahasiswa yang merindukan kejayaan

Kepada rakyat yang kebingungan di persimpangan jalan”  

Keriuhan merajai pusat kota. Jalan protokol yang biasanya dijadikan alas lalu-lalang mobil mewah tiada lagi nampak, disulap menjadi tempat berpijak para pemuda penuh gelora. Sambil membawa umbul-umbul berisi seruan, ada juga umpatan, tak henti-hentinya mereka menyanyikan lagu perjuangan kaum muda.

“Kepada pewaris peradaban yang telah menggoreskan

Sebuah catatan perjalanan di lembar sejarah manusia”

Terik matahari tidak lagi dihiraukan. Meskipun mengenakan jaket almamater beraneka warna, semua berlomba melantangkan suara yang senada. Tak peduli kuning, biru, merah, atau hijau, semua ingin didengar sebagai satu harmoni perjuangan.

Wahai kalian yang rindu kemenangan

Wahai kalian yang turun ke jalan

Dorong-mendorong mulai terjadi. Kini bukan cuma para pemuda yang berseru-seru, para petugas berseragam yang sedari tadi berjaga di depan gedung megah itu pun tidak mau kalah menyorakkan makian. Tapi, jiwa muda yang sedang membara tidak bisa dikekang. Mereka tetap bersikukuh, bahkan siap berjibaku.

Demi mempersembahkan jiwa dan raga

Untuk negeri tercinta”*

Suasana kian panas. Bila seperti ini terus, baku hantam tidak lagi terelakkan.

“Ini tidak benar,” pikirku. Aku menyeka peluhku yang lebih mirip derai daripada bulir. Seketika aku merasa kepalaku terasa berat. Aku mencoba memejamkan mata, berharap keadaan ini hanyalah efek dehidrasi. Namun, berbagai fragmen memori tiba-tiba menyerbu penglihatanku. Anehnya, itu semua tentang kamu, Mei.

***

Aku mengendap-endap di luar kelas sambil sesekali melirik arloji. Jam 10.05. Lima belas menit lagi mungkin kuliah Sistem Politik Indonesia akan berakhir. Tapi tak apalah yang penting masih bisa absen, begitu pikirku ketika melihat kertas absensi tergeletak di luar kelas.

Ketika aku sibuk menggeledah tas untuk mencari bolpoin, tiba-tiba seseorang merampas kertas itu dari tanganku. Sontak aku terperangah, takut kalau yang ada di depanku adalah dosen. Tapi begitu mendongak, aku malah menemukan kamu.

“Telat lebih dari lima belas menit nggak boleh absen!” serumu. Emosiku langsung tersulut. Ketika itu aku sama sekali tidak mengenal dirimu.

“Balikin nggak?!” kataku dengan nada meninggi.

“Maaf,” kamu mengangkat bahu lalu pergi membawa kertas itu. Aku kehilangan kata-kata menahan kegeramanku.

“Telat lagi?” sebuah suara dari arah belakang menyadarkanku, ternyata Jaka. Di sebelahnya ada Bari yang terlihat menahan tawa. Sepertinya mereka melihat peristiwa yang terjadi tadi.

“Kenapa ketawa?! Siapa sih dia? Rese banget!”

“Gema..Gema..Makanya jangan keseringan bolos! Dia itu seharusnya seangkatan sama kita. Namanya Mei, asdos baru,” kata Bari menjawab tanyaku.

Aku terkejut mendengar pernyataan Bari. Katanya kita satu angkatan, tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu? Lagipula, kamu begitu mungil, wajahmu bahkan lebih mirip anak baru lulus SMA. Mana mungkin kamu adalah asisten dosen untuk mahasiswa semester tiga?

Tapi, setelah dipikir-pikir hal itu mungkin saja. Seharusnya aku, Jaka, dan Bari adalah mahasiswa tingkat tiga, sama seperti kamu. Sayang, akibat ketahuan memalsukan absen pada semester lalu kami harus mengulang satu mata kuliah di semester tiga. Argh, mengingat itu aku jadi semakin emosi!

Tanpa diminta, Jaka dan Bari lalu menceritakan semua tentang dirimu. Saat itu aku hanya bisa mengernyitkan dahi mendengar cerita mereka. Kata mereka kamu adalah cewek gila, sok idealis. Mungkin karena itulah kamu masuk Senat Mahasiswa, bahkan menjadi ketua divisi Kajian Strategis yang pekerjaannya tidak lain adalah berdemonstrasi. Aku cuma ketawa mendengarnya. Jaka dan Bari pasti bercanda, memanfaatkan keacuhanku untuk menipuku.

Aku memang tidak pernah terlibat dalam kegiatan kampus. Pergi kuliah saja jarang, apalagi menyisihkan waktu untuk organisasi! Aku lebih suka menghabiskan waktu dengan tidur, main game, atau menghamburkan uang di mal bersama teman-teman yang satu visi denganku. Kami sangat anti dengan para organisatoris kampus yang memiliki pandangan 1800 dibandingkan kami. Mereka terlalu serius memandang hidup. Sama seperti kamu, Mei, sang aktivis kampus.

***

Aku lupa bagaimana persisnya, tapi sejak pertemuan waktu itu aku dan kamu jadi dekat. Aku semakin banyak tahu tentang kamu. Aku jadi tahu bahwa kamu awalnya sangat benci padaku. Kata kamu aku ini adalah calon-calon perusak bangsa dan negara. Semua itu tidak lain karena kebiasaan burukku yang gemar bolos kuliah lalu menitipkan tanda tangan pada temanku. Belum lagi hobiku tidur saat dosen sedang mengajar. Kamu bilang aku adalah calon-calon duplikat para wakil rakyat.

Awalnya aku senang diberi julukan seperti itu olehmu. Namun, akhirnya aku malah serasa ditampar karena tahu kalau kamu menyindirku. Orang-orang yang berkedok wakil rakyat itu rupanya memiliki kebiasaaan sepertiku. Mangkir dari tugas, terlelap di saat rapat, dan masih banyak hal-hal yang bahkan tak pernah terpikir olehku.

Semakin hari rasanya aku semakin kagum saja denganmu. Kamu tidak seperti anak muda lain yang sibuk ganti peranti elektronik tanpa pernah mengerti berapa trilyun dana yang bisa digunakan untuk pembangunaan negara. Berebut pasang gaya naik mobil mewah hasil keringat orangtua tanpa peduli polusi dan kelumpuhan kota.

Kamu berbeda. Kamu begitu menaruh perhatian pada sekelilingmu. Katamu kau sangat mencintai politik. Kamu sangat mengidolakan mahasiswa-mahasiswa di era terdahulu. Dulu mahasiswa benar-benar menunjukkan taringnya. Dulu mahasiswa punya otoritas yang patut diperhitungkan. Kamu sangat mengkritisi setiap perubahan yang terjadi di negeri ini. Mungkin itu sebabnya kamu suka sekali melakukan aksi.

Dan tahukah kamu? Rasanya kini aku mulai tertular semangat nasionalismemu.

***

Hari itu untuk pertama kalinya aku ikut kamu dan teman-teman senat lain turun ke jalan. Sebagai pemula, atau mungkin karena nyaliku yang tidak cukup kuat, aku memutuskan hanya menjadi seksi dokumentasi. Aku tidak akan berada dalam kerumunan demonstran yang berteriak-teriak, apalagi menjadi orator seperti kamu. Aku hanya akan mengambil beberapa foto sambil menonton kalian beraksi. Sesekali aku mengabadikan gambar dirimu yang tengah berorasi di atas mobil bak terbuka. Sampai sekarang aku masih sulit percaya bahwa gadis mungil sepertimu sanggup menggetarkan massa lewat pekik semangatmu.

Aku begitu takjub melihat dirimu kala itu. Kamu sanggup bertransformasi dengan sempurna. Jika biasanya kamu terlihat seperti gadis manis, tidak demikian saat ini. Ketika turun ke jalan, kamu bisa berubah menjadi komandan aksi yang begitu gagah. Terik matahari yang membakar kulit putihmu tak pernah kau hiraukan. Mata sipitmu menyiratkan ambisi yang menggebu-gebu.

Awalnya semua berjalan sempurna seperti yang telah direncanakan. Unjuk rasa damai yang menentang pembaliknamaan perguruan tinggi negeri itu berlangsung tertib. Namun entah bagaimana tiba-tiba suasana menjadi ricuh. Teriakan yang berisi umpatan penuh emosi serentak menggelegar. Barikade mahasiswa yang tadinya berbentuk barisan rapi kini berubah menjadi formasi bola pejal, pertanda bahwa keadaan menjadi gawat.

Karena melamun, aku tidak menyadari bahwa batu-batu mulai beterbangan. Kayu-kayu berdatangan dari segala penjuru. Aku yang saat itu sedang berteduh jauh dari kerumunan massa hanya bisa bergeming. Otakku seperti berhenti berpikir akibat semua kekacauan ini.

Polisi nampak geram. Mereka meluncurkan semprotan air dan merica. Tapi tidak mempan. Akhirnya aku mendengar suara gemuruh senjata api. Tiba-tiba aku merasa tangaku ditarik oleh seseorang. Aku digiring menjauh oleh Donny, Sekretaris Umum Senat. Aku tidak bisa berbuat banyak kecuali mengikuti cengkraman Donny yang membawaku ke gang-gang sempit dan kotor. Tapi sebelum berlalu, aku sempat melihat sesosok jatuh lunglai dari atas mobil bak terbuka.

Mataku membelalak, jantungku seakan berhenti berdetak. Aku meronta ingin lepas dari pegangan Donny yang terus membawaku menjauh dari keramaian itu. Tapi aku tidak bisa. Entah dia yang begitu kuat atau sendi-sendiku yang terlalu kelu. Untuk berteriak saja bahkan lidahku kaku. Aku ingin sekali kembali ke tempat itu. Aku ingin kembali untuk kamu, Mei!

Keesokan harinya stasiun berita ramai mengabarkan kejadian aksi kemarin. Dikabarkan bahwa kekacauan terjadi akibat ulah provokator tidak bertanggung jawab. Tidak lupa mereka menyertakan cerita tragis di baliknya. Seorang mahasiswi tewas akibat lemparan batu. Dialah kamu, Mei.

***

Keadaan semakin panas di sini. Muka-muka penuh amarah terlihat dimana-mana, baik di antara mahasiswa dan para petugas berseragam itu.

Aku segera membalik badan, menatap puluhan wajah yang dihiasi air muka siap perang. Aku tidak akan mengizinkan kericuhan satu tahun lalu terulang lagi di hari ini. Ya, saat ini aku berdiri sebagai komandan aksi. Mungkin suatu hal yang di luar nalar kalian. Aku pun masih suka bertanya-tanya bagaimana bisa aku menjadi seperti ini.

Tapi aku selalu punya jawaban untuk itu. Kejadian setahun lalu benar-benar menyempurnakan rotasi hidupku. Sejak saat itu, aku tidak lagi acuh. Aku tidak lagi memusuhi para aktivis kampus yang sering dianggap sinting karena idealisme mereka. Justru aku sangat malu dengan masa laluku, pemuda naif yang berbakat menjadi sumber kebobrokan negeri. Aku mulai aktif menggeluti dunia politik, bukan hanya karena tuntutan akademik melainkan juga demi mengamati perjalanan bangsa. Terlalu muluk mungkin. Tapi cita-citaku sekarang bukan lagi menimbun pundi-pundi harta, melainkan mengabdi kepada negara. Kaum muda harus bangkit seperti dulu. Menjadi makhluk-makhluk kritis yang selalu siap mengawal reformasi.

“Stooop!” aku berteriak ke arah kaumku.

Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengikuti komando singkat itu. Samar, aku juga turut mendengar seruan serupa dari pihak petugas berseragam di belakang sana.

Suasana sontak sepi, semua perhatian kini terpaku padaku. Tanpa panjang lebar aku menurunkan tensi. Kami, yang memiliki intelektualitas, tentu tidak mau mengandalkan otot untuk mengurai masalah. Aku menghampiri seorang petugas berseragam yang berdiri tidak jauh dari kami. Akhirnya dia menyetujui usulan kami untuk menyelesaikan segalanya dengan damai.

Demonstrasi pun kembali digelar, kali ini lebih tertib. Lagu-lagu kembali berkumandang mengiringi seorang mahasiswa yang sedang berorasi di atas mobil kap. Di saat seperti ini aku jadi teringat kamu, Mei.

Dalam hati aku berjanji, semangat perjuanganmu tidak akan berakhir. Kamu memiliki kami, yang akan selalu setia menggemakan kebenaran di tengah kesesatan.

Keterangan :

*Lirik lagu Totalitas Perjuangan

September 2010

-Pemenang Karya Favorit Lomba Menulis Cerita Pendek Remaja Nasional 2010-

Satu Tanggapan to “Gema untuk Mei”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Elegi Cendekia « orkestraksara - 27 Maret 2012

    […] Gema untuk Mei Share this:TwitterFacebookLike this:SukaBe the first to like this post. Filed under Kicau Kacau | Tinggalkan komentar […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: