TENS : Alternatif Jitu Ketika Terapi Farmakologi Tidak Lagi Ampuh Mengusir Nyeri

1 Jan

Nyeri pinggang bawah merupakan penyakit yang lazim ditemukan pada beragam kalangan usia. Sejak kita belajar berdiri dan mulai melangkah, risiko nyeri tersebut mulai menghantui. Keadaan tidak nyaman itu bisa semakin diperparah dengan kesalahan postur tubuh ketika duduk, berbaring, atau melakukan aktivitas lainnya. Meskipun bukan merupakan sebuah diagnosis, nyeri pinggang bawah bisa menjadi gejala dari berbagai macam penyakit seperti infeksi, radikulopati, bahkan neoplasma.

Berangkat dari dampak mengerikan yang tersembunyi itulah akhirnya muncul variasi terapi guna mengurangi rasa nyeri. Awalnya, terapi farmakologis seperti Parasetamol, NSAIDS, dan Opioid menjadi andalan utama untuk memerangi ketidaknyamanan pasien. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, obat-obatan tidak lagi dirasa efektif untuk meredam nyeri yang kian meradang. Selain itu, perkembangan teknologi kedokteran juga turut membuat terapi klasik tersebut ditinggalkan jaman.

Di era yang serba maju ini, muncul sebuah metode menjanjikan bernama Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS). Sesuai namanya, pengaplikasian TENS bergantung penuh pada sejumlah elektroda yang akan mengalirkan arus listrik ringan ke tubuh pasien. Prinsip kerja alat ini berdasarkan pada proses mekanisme pengalihan nyeri.

Ketika jaringan tubuh mengalami kerusakan, serabut saraf nyeri pada daerah itu secara otomatis akan terstimulasi. Perangsangan tersebut kemudian berakibat pada peningkatan sensitifitas rasa nyeri pada area yang bermasalah. Untungnya, pada daerah yang sama juga ditemukan sejumlah mekanoreseptor yang berfungsi merespon sentuhan. Apabila serabut mekanoreseptor ini mendapat stimulus, niscaya rasa nyeri akan tergantikan dengan sensasi lain. TENS diduga mampu merangsang pelepasan endorfin sehingga rasa sakit pun dapat terblokir. Fenomena pengalihan rangsang nyeri inilah yang coba dimanfaatkan oleh para penemu teknologi jitu ini.

TENS semakin tersohor namanya karena tidak memerlukan penerapan yang sulit. Pemasangan elektroda tidak harus selalu terpaku pada dua sisi area yang mengalami nyeri. Elektroda dapat dipasang dalam posisi bervariasi sesuai lokasi gejala yang dikeluhkan tiap individu. Meskipun begitu, para ahli tetap menyarankan agar arus listrik ditargetkan pada saraf perifer ataupun titik akupuntur tertentu. Frekuensi yang diberikan alat ini disesuaikan dengan ambang rangsang mekanoreseptor, yaitu pada 90-130Hz. Intensitas arus biasanya diatur hingga mencapai 80-100mA.

Penatalaksanaan dengan metode TENS kerap digunakan untuk indikasi-indikasi umum seperti nyeri neurogenik, nyeri muskuloskeletal, dan nyeri visera. Bagi kaum wanita, TENS cukup bisa diandalkan untuk mengusir dysmenorrhea atau nyeri haid. Selain itu, alat yang masih bersaudara dengan Interferential Current Therapy (IFC) ini juga bisa digunakan pada pasien angina pectoris.

Penggunaan TENS sebagai pereda rasa nyeri kini semakin populer mengingat berbagai keuntungan yang ditawarkannya. TENS adalah alat yang mudah diaplikasikan dan memiliki nilai ekonomi terjangkau. Selama menjalani terapi dengan metode ini, pasien tidak akan mengalami sensasi tak nyaman, kecuali sedikit rasa geli. Jika dibandingkan dengan efek samping yang dihasilkan beberapa obat penghilang rasa sakit oral, TENS terbilang lebih aman. Hingga saat ini TENS telah terbukti ampuh pada sekitar 70% kasus nyeri akut.

Meskipun sudah mencapai prestasi gemilang, TENS belum berpuas diri melainkan terus meluncurkan inovasi baru. Saat ini TENS melengkapi mesin barunya dengan perekat elektroda sekali pakai sehingga pengguna alat ini tidak perlu takut terkena infeksi silang dari pasien sebelumnya.

Akan tetapi, penggunaan TENS tetap perlu diperhatikan pada beberapa pasien dengan kriteria khusus. Pasien dengan reaksi hipersensitivitas perlu hati-hati terhadap reaksi alergi yang mungkin ditimbulkan oleh gel konduktif, elektroda, dan perekat. Komplikasi berupa iritasi kulit ditemukan pada sekitar 33% pasien. Sementara itu, pasien luka bakar atau dengan kelainan kulit seperti eksim dilarang keras menggunakan alat ini. TENS juga tidak boleh diaplikasikan bagi orang yang memiliki masalah sirkulasi. Dalam penggunaannya secara umum, TENS tidak boleh dipasang pada bagian leher dan batang badan bagian atas. Untuk memperoleh hasil yang maksimal tentu saja pasien tetap harus melakukan konsultasi dengan dokter sebelum memutuskan untuk menggunakan alat ini.cinthya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: