Pengentasan Rabies yang Tak Kunjung Tuntas

1 Jan

Siapa bilang negeri ini sudah bebas dari penyakit anjing gila?

Alih-alih dicanangkan sebagai negara yang mampu menanggulangi rabies, Indonesia malah menambah panjang riwayat keberadaan penyakit tersebut. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan hewan ini telah ditemukan sejak tahun 1894 di Indonesia. Namun, kurun waktu lama tidak menjamin penyakit menular akut itu telah hilang. Sejak 2006 hingga 2008 telah terjadi 18.945 kasus gigitan hewan rabies terhadap manusia. Sampai tahun 2009, tercatat sedikitnya 24 propinsi terjangkit rabies. Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan NTT menempati tiga urutan teratas dalam jumlah insidens rabies.

Hampir Selalu Berakhir Dengan Kematian

Dampak dari penyakit ini tidak dapat diremehkan. Virus dari golongan Rhabdovirus yang biasanya masuk melalui luka gigitan akan melakukan inkubasi dalam jangka waktu 2-8 minggu. Begitu tiba di otak, virus akan melakukan replikasi kemudian menyebar ke seluruh neuron. Uniknya, virus tersebut kerap melakukan penyerangan pertama ke sel-sel yang ada di sistem limbik, hipotalamus, serta batang otak. Setelah mengganggu kinerja sistem saraf pusat, virus-virus kemudian melanjutkan perjalanannya ke perifer. Praktis, hampir semua organ dan jaringan dapat terserang virus mematikan itu.

Penderita rabies umunya akan melewati empat tahap gejala klinis. Pertama adalah stadium prodromal. Pasien akan merasa demam, mual, malaise, dan nyeri tenggorokan selama beberapa hari. Jika tidak segera mendapat penanganan, maka penderita akan masuk ke stadium dua, berupa gangguan sensoris seperti rasa nyeri atau reaksi berlebihan terhadap rangsang.

Stadium eksitasi merupakan tahap ketiga sekaligus puncak penyakit. Pada keadaan ini, pasien akan mengalami peningkatan tonus otot dan aktivitas simpatik. Sebagian besar penderita rabies akan meninggal dalam fase ini, tetapi tidak sedikit pula yang tidak menunjukkan gejala eksitasi dalam perjalanan penyakitnya. Pada beberapa kondisi justru akan ditemukan kasus paresis otot.

Bercermin dari dampak-dampak yang diakibatkan oleh penyakit mengerikan ini, rabies tidak lagi dapat disepelekan. Bukan hanya menjadi sandungan bagi dunia kesehatan, sektor-sektor lain pun dapat turut merasakan imbasnya.

Masih Ada Jalan Keluar

Sebenarnya, rabies bisa berhenti menjadi momok menakutkan apabila ada perhatian intensif dari pemerintah. Meskipun belum ada obat yang dapat menyembuhkan, rabies tetap dapat dicegah. Hal yang paling sederhana bisa dimulai dengan desinfeksi luka gigitan sedini mungkin. Pembersihan luka terbukti mampu mengurangi bahkan mematikan virus rabies.

Di samping itu, pemberian vaksin dan serum juga patut diperhatikan. Vaksin Anti Rabies (VAR) dapat segera diberikan pada penderita yang terpapar gigitan hewan rabies. Untuk kasus berbahaya, seperti gigitan pada bagian atas tubuh, Serum Anti Rabies (SAR) juga harus diberikan bersama dengan VAR.

Namun, pekerjaan rumah pemerintah tidak lantas berhenti sampai di situ. Pasalnya, meskipun VAR dan SAR terbukti efektif dalam menanggulangi rabies, ketersediaan keduanya, khususnya di wilayah terpencil, masih patut dipertanyakan.cinthya.

-Rubrik Kesehatan Masyarakat, Desk Ilmiah Populer. SKMA No. 02/XLI/September-Oktober 2010-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: