Jangan Remehkan Kebiasaan Makan Anak!

1 Jan

Pernahkah Anda mendengar berita tentang anak yang memiliki kebiasaan mengonsumsi rokok, tanah, bahkan paku? Jika ya, jangan dulu mengaitkannya dengan ritual klenik sebab ada penjelasan ilmiah di balik fenomena tersebut.

Penyakit Itu Bernama Pica

Meski tidak banyak yang familiar dengan istilah pica, kenyataannya sekitar 10-32% anak usia 1-6 tahun mengalami gangguan makan semacam itu. Istilah pica  sendiri diambil dari kata magpie yang dalam bahasa Latin berarti burung pemakan segala. Diagnosis pica ditegakkan apabila seseorang memiliki kebiasaan mengonsumsi benda asing secara terus-menerus selama minimal satu bulan. Pica juga dapat diartikan sebagai kebiasaan memasukkan benda asing ke mulut, walaupun tidak sampai ditelan.

Akan tetapi, ada pengecualian yang perlu diperhatikan dalam menilai gangguan makan anak. Pada usia 18-24 bulan, kebiasaan memasukkan benda selain makanan ke dalam mulut dapat dianggap sesuatu yang sesuai dengan tahapan perkembangan. Oleh karena itu, dugaan pica dapat disingkirkan untuk sementara, kecuali pada kasus-kasus tertentu seperti retardasi mental.

Kebanyakan teori menyebut defisiensi mineral, khususnya zat besi dan seng, sebagai penyebab tersering gangguan kebiasaan makan ini. Beberapa penelitian menunjukkan adanya penurunan kadar zat besi dalam darah penderita pica. Hipotesis mengenai defisiensi nutrisi tersebut semakin diperkuat dengan penelitian lain yang menyatakan bahwa sebagian besar kasus pica dapat diatasi dengan perbaikan nutrisi.

Hal lain yang diduga dapat menjadi penyebab pica adalah kondisi mental dan psikologis. Penderita Obsessive Compulsive Disorders (OCD) dan skizofrenia sering mengalami gangguan kebiasaan makan. Selain itu, stress yang berkelanjutan dapat menjadi pemicu timbulnya kelainan tersebut. Seorang anak yang mengalami trauma otak pada masa tumbuh kembang juga menjadi subjek yang rentan mengalami pica. Parahnya lagi, kebiasaan itu dapat terus berlanjut bahkan hingga anak telah tumbuh dewasa.

Tidak dapat dipungkiri, faktor budaya turut memberikan peran yang cukup besar dalam maraknya kasus pica, terutama di daerah-daerah perifer. Di beberapa wilayah, kebiasaan mengonsumsi benda asing dapat menjadi sesuatu yang lazim bahkan terkesan wajib. Contohnya, beberapa budaya percaya bahwa mengonsumsi tanah dapat menyembuhkan diare atau morning sickness pada ibu hamil. Ritual turun temurun atau kepercayaan yang menyatakan bahwa pica adalah sesuatu yang sahih tak pelak lagi membuat kebiasaan ini semakin populer di kalangan masyarakat tertentu.

Lantas, Seberapa Bahayakah ?

Layaknya setiap benda asing yang masuk ke dalam tubuh manusia, substansi yang dikonsumsi penderita pica juga dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Salah satu akibat yang sering ditimbulkan oleh kebiasaan tersebut adalah keracunan. Racun di dalam benda asing yang termakan itu bisa memengaruhi berbagai fungsi tubuh manusia. Efek yang paling fatal dapat terjadi apabila racun sudah menyebar hingga ke otak. Bila demikian, biasanya pasien akan mengalami gejala seperti sakit kepala, muntah, kejang, koma, bahkan henti napas.

Efek samping yang mampu ditimbulkan pica tidak lantas berhenti sampai di situ. Permasalahan klasik seperti paparan agen infeksius juga menjadi masalah yang sangat krusial. Infeksi parasit dan mikroorganisme patogen lain dari tanah atau kotoran yang termakan bisa menyebabkan berbagai gangguan medis, mulai dari skala ringan hingga parah. Gangguan saluran pencernaan merupakan komplikasi yang kerap dikeluhkan oleh pasien pica. Gejala yang dialami pasien mencakup konstipasi, ulserasi, dan obstruksi usus akibat ketidaksanggupan tubuh mencerna material asing. Kerusakan gigi dan mulut pun tidak luput dari dampak yang muncul akibat pica. Pasien biasanya akan datang dengan keluhan abrasi gigi yang parah serta hilangnya lapisan permukaan gigi.

Intervensi Khusus, Perlu!

Terlepas dari kenyataan bahwa pica dapat sembuh dengan sendirinya seiring pertambahan usia anak, tata laksana yang cepat dan tepat tetaplah perlu diperhatikan. Jika anak mulai memperlihatkan keanehan pola makan yang menetap selama satu bulan, sebaiknya segera lakukan konsultasi dengan tenaga medis. Penanganan sedari dini merupakan kunci keberhasilan utama dalam proses tatalaksana penyakit ini.

Langkah awal yang dapat dilakukan guna mengatasi gangguan ini adalah penegakkan diagnosis. Selain anamnesis, berbagai pemeriksaan penunjang juga perlu dilakukan untuk mengetahui secara pasti kondisi pasien. Pemeriksaan radiologi merupakan faktor penting untuk mengidentifikasi benda-benda yang sering dimakan oleh pasien. Selain itu, pencitraan abdomen juga dapat membantu menganalisis kerusakan yang terjadi dalam saluran cerna pasien. Beberapa teknik pemeriksaan yang sering digunakan antara lain, yaitu pemeriksaan radiologi dengan barium serta endoskopi.

Sebenarnya, tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk mendeteksi pica, namun terkadang pemeriksaan kadar zat besi dalam darah sering dilakukan. Dalam keadaan berat, obat-obatan yang dapat mengontrol gangguan kebiasaan makan dapat diberikan. Akan tetapi, penanganan terpenting adalah pemberian nutrisi yang tepat serta pendekatan psikologis. Selain itu, semua usaha intervensi tetap akan sia-sia jika tidak didukung oleh usaha pasien serta dorongan keluarga.cinthya.

-Rubrik Artikel Bebas, Desk Ilmiah Populer. SKMA No. 03/XLI/November-Desember 2010-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: