Gabapentin, Solusi Mutakhir Atasi Serangan Epilepsi

1 Jan

Istilah epilepsi bukanlah hal baru dalam peradaban manusia. Di masa lalu, epilepsi sering dikaitkan dengan pengalaman spiritisme yang sulit diterima nalar. Namun, seiring era modernisasi, makna epilepsi pun dapat dijelaskan secara faktual berdasarkan bukti-bukti medis. Epilepsi merupakan sindrom yang ditandai dengan gangguan paroksismal sementara fungsi otak. Hal itu terjadi akibat lepasnya muatan listrik secara berlebihan dan mendadak sehingga penerimaan serta pengiriman impuls dari otak ke bagian tubuh lain terganggu.

Manifestasi klinis epilepsi dapat berupa abnormalitas motorik, kehilangan kesadaran secara episodik, gangguan psikis, bahkan kekacauan sistem saraf otonom. Sebuah episode tunggal yang muncul dari berbagai gangguan itu bisa disebut serangan. Berdasarkan etiologinya, epilepsi diklasifikasikan menjadi simtomatik dan idiopatik. Kedua penggolongan tersebut kemudian masih dibagi lagi menjadi epilepsi parsial dan generalisata berdasarkan dampak serangan yang muncul.

Hingga saat ini, epilepsi masih menimbulkan persoalan tersendiri bagi para penyandangnya. Mereka bukan hanya harus menanggung beban fisik, melainkan juga stigma sosial dari masyarakat sekitar. Untuk mengatasi permasalahan itu, dunia kedokteran menciptakan terapi farmakologis yang bertujuan mencegah dan mengatasi serangan epilepsi. Obat-obatan tersebut memang tidak secara langsung menyembuhkan, tetapi bila pasien memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi maka serangan pun bisa diminimalisasi bahkan ditiadakan.

Gabapentin merupakan salah satu obat antikonvulsan yang mampu meredam serangan epilepsi. Sesuai namanya, gabapentin adalah substansi kimia yang berhubungan dengan g-aminobutyric acid (GABA). Obat ini akan memengaruhi senyawa-senyawa kimia dan sistem saraf yang terlibat dalam proses kejang dan nyeri dari gejala epilepsi. Gabapentin mengatasi reaksi kejang dengan mengurangi rangsangan eksesif yang tidak normal di otak.

Pengobatan dengan gabapentin dianjurkan bagi penderita epilepsi parsial. Epilepsi jenis ini biasanya menunjukkan gejala seperti rasa kesemutan pada satu tempat yang berlangsung beberapa menit atau jam. Selain itu, pasien juga sering mengulang ucapan, melamun, berlari-lari tanpa tujuan, mengalami gangguan daya ingat, dan berhalusinasi.

Pada pengobatan awal biasanya digunakan dosis yang rendah guna melihat efikasi obat pada tubuh pasien. Untuk hasil yang optimal, gabapentin kerap diberikan tiga kali sehari dengan catatan selang waktu maksimal tidak boleh melebihi dua belas jam. Salah satu kelebihan obat ini adalah dapat diberikan baik sebelum maupun setelah makan.

Terapi menggunakan gabapentin terbilang relatif aman dan boleh diberikan kepada pasien berusia di atas tiga tahun. Dalam penggunaannya, gabapentin bisa dipakai sebagai terapi tunggal atau dikombinasikan dengan obat lain yang bisa mengoptimalkan kerja obat. Namun, perlu diperhatikan bahwa gabapentin tidak boleh diberikan bersamaan dengan morfin, naproxen, dan hydrocodone. Pada pengobatan awal biasanya digunakan dosis yang rendah guna melihat efikasi obat pada tubuh pasien. Untuk hasil yang optimal, gabapentin kerap diberikan tiga kali sehari dengan catatan selang waktu maksimal tidak boleh melebihi dua belas jam. Salah satu kelebihan obat ini adalah dapat diberikan baik sebelum maupun setelah makan.

Gabapentin dapat menyebabkan beberapa efek samping seperti rasa mengantuk, lemah, pusing, perubahan berat badan, diare, dan mual. Pada anak-anak, pemberian gabapentin secara tidak tepat bisa menyebabkan perubahan perilaku, masalah memori, sifat agresif, dan kesulitan berkonsentrasi. Namun, bila dibandingkan dengan obat-obat antiepilepsi lainnya, gabapentin memiliki efek samping yang lebih ringan. Terlepas dari perannya untuk mengontrol serangan epilepsi, gabapentin ternyata juga menyimpan khasiat lain. Obat yang diberikan secara oral ini juga mampu mengatasi nyeri akibat kerusakan saraf pada penyakit herpes dan diabetes.

Pengobatan pada penyakit epilepsi bersifat jangka panjang dan harus dilakukan secara disiplin. Pada umumya, seorang penyandang epilepsi diwajibkan mengkonsumsi obat sampai tidak dijumpai lagi serangan dalam jangka waktu tertentu, tergantung dari tipe dan riwayat epilepsi, serta hasil rekaman listrik otak. Sama seperti proses awal pengobatan, penghentian terapi juga harus dilakukan secara bertahap dan sesuai saran dokter.cinthya.

-Rubrik Info Obat, Desk Ilmiah Populer. SKMA No.03/XL/Mei-Juni 2010-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: