Carpe Diem : Petiklah Hari

1 Jan

Success is the ability to go from failure to failure without losing your enthusiasm. – Sir Winston Churchill

I’ve failed over and over and over again in my life and that is why I succeed. – Michael Jordan

Malam itu, duniaku tak lagi sama. Deretan huruf yang berbaris rapi di layar komputer praktis mengubah arah rotasi hidupku.

8 Agustus 2008 merupakan tanggal kramat bagiku. Bukan hanya karena keistimewaan tiga buah angka ‘8’ yang berhimpitan di sana, melainkan juga karena nilai historis yang tersimpan di tanggal itu. Sejak hari itu, semuanya berubah, termasuk hari-hariku yang menjadi lebih berwarna.

Aku masih ingat benar bagaimana enam digit angka bisa memutar balik jalan hidupku. 220142. Bukan, itu bukan nomor layanan pesan antar restoran siap saji. Kombinasi angka itu layaknya sandi pembuka kotak mimpi bagi jutaan umat, terlebih yang telah menanggalkan jubah putih abu-abunya. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, begitulah tafsir dari kode tersebut. Ya, tidak lain itu adalah tempat yang menjadi idaman begitu banyak orang, termasuk aku.

Fakultas Impian yang Menoreh Sejarah

Berdiri kokoh di Jalan Salemba Raya nomor 6, Jakarta Pusat, gedung tua itu seolah menampakkan daya tarik yang luar biasa. Ia bagaikan sosok angkuh yang sulit dijamah. Bangunan tua yang dicat serba putih itu mampu menghipnosis jutaan jiwa muda seantero nusantara. Banyak yang menaruh harap padanya, tetapi tidak sedikit pula yang dibuat patah arang olehnya. Tidak bisa dipungkiri, gedung warisan zaman kolonial itu memang layak dijadikan tempat mengejar cita. Sudah lebih dari 1,5 abad ia menyemarakkan ranah pendidikan di negeri ini.

Sejarah kelahiran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) boleh dikatakan cukup berliku. Awalnya, FKUI tidak lebih dari Sekolah Pendidikan Kedokteran kecil yang diberi nama Dokter Djawa School (DDS). Sekolah yang didirikan pada tahun 1851 itu hanya memiliki 12 orang siswa di awal kemunculannya. Tragisnya lagi, meskipun mendapat gelar dokter, para lulusan DDS hanya dipekerjakan sebagai mantri cacar oleh pemerintah Belanda.

Empat puluh tujuh tahun kemudian, yakni tahun 1898, Dokter Djawa School berganti nama menjadi School tot Opleiding voor Indiscche Artsen (STOVIA). Selain perubahan nama, sistem pendidikan pun turut mengalami metamorfosa. Akan tetapi, tidak lama kemudian, tepatnya pada masa penjajahan Jepang, STOVIA kembali berganti nama menjadi Ika Daigaku. Singkatnya, setelah berulang kali mengalami pergantian nama, sebuah titik terang pun muncul di awal tahun 1950. Pemerintah meresmikan sekolah kedokteran pertama di Indonesia itu dengan nama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Berdirinya FKUI turut membangkitkan semangat kaum intelektual untuk mengembangkan dunia kedokteran di Indonesia. Tak lama kemudian, lahirlah Perguruan Tinggi Kedokteran Universitas Gajah Mada di Klaten, Jawa Tengah.

Namun, sejarah tidak lantas berhenti di situ. FKUI tidak hanya terkenal akan cerita panjang yang melatarbelakangi kelahirannya, tetapi juga karena gelarnya sebagai Kampus Perjuangan. Kampus Perjuangan? Ya, predikat itu diberikan bukan tanpa alasan. Akan tetapi, jangan terburu-buru mengaitkannya dengan perjuangan menempuh seleksi ketat dalam rangka menjadi mahasiswa di sana.

Nama “Kampus Perjuangan” merupakan sebuah bukti sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia. FKUI turut menjadi saksi perjuangan para pemuda bangsa. Mahasiswa FKUI senantiasa menjadi garda terdepan dalam aksi-aksi pergerakan mahasiswa, mulai dari zaman Budi Utomo hingga era reformasi satu dekade lalu.

Sayangnya, gedung megah berarsitektur khas Belanda itu tak akan lagi menjadi saksi lahirnya para pengabdi. Dalam waktu singkat, tepatnya pertengahan tahun ini, ia harus merelakan dirinya runtuh tergerus modernisasi. Bangunan itu akan segera didemolisi dan digantikan dengan twin towers, tempat riset-riset mutakhir akan diretas. FKUI pun akan merapatkan sayap ke kompleks Universitas Indonesia di Depok.

Belajar Sepanjang Hayat, Mengabdi Tak Kenal Lelah

“Untuk bisa berada di tempat ini, mungkin diperlukan otak yang cerdas. Tapi untuk bisa bertahan di sini, hanya perlu kerajinan tanpa batas.”

Petikan kalimat di atas aku dapatkan dari seorang senior ketika sedang melakukan pendaftaran ulang mahasiswa baru. Awalnya aku agak skeptis dengan ucapan itu. Pertama, keberadaanku di tempat ini mungkin lebih banyak disebabkan oleh keberuntungan dibandingkan kecerdasan. Kedua, mana mungkin sebuah kerajinan memiliki pengaruh lebih besar daripada kepintaran? Nyatanya, ucapan itu terbukti benar!

Setiap tahun, FKUI menerima sekurang-kurangnya 200 mahasiswa melalui berbagai jalur masuk. Dari sekian banyak mahasiswa tersebut, bisa dipastikan setengahnya adalah bibit unggul sekolah atau bahkan daerah. Tidak heran bila FKUI disebut sarang anak-anak cendikia. Namun, setelah menjalani masa-masa perkuliahan, ironi mulai muncul. Anak-anak yang tadinya adalah bintang kelas, kini sinarnya mulai meredup. Usut punya usut, pangkal persoalan berasal dari cara belajar yang salah.

Tiba-tiba pesan senior itu terngiang lagi di benakku. Kata-katanya sungguh tepat. Untuk bisa bertahan hidup di FKUI tidak hanya diperlukan kepintaran, tetapi juga kerajinan serta ketekunan. Setelah menjadi mahasiswa kedokteran, tidak boleh lagi ada yang namanya Sistem Kebut Semalam (SKS). SKS mungkin akan membantu dalam beberapa kesempatan, tapi tidak bisa dijadikan solusi mutlak. Mencicil materi kuliah adalah satu-satunya cara jika ingin mendapatkan hasil yang memuaskan. Walaupun melelahkan dan membosankan, mencicil memang solusi jitu. Selain karena materi yang sulit, kurikulum pendidikan fakultas juga menjadi tuntutan tersendiri.

Berbeda dengan jurusan lainnya, FKUI memiliki sistem pendidikan khusus yang bernama Kurikulum Fakultas 2005 (Kurfak 2005). Sesuai  namanya, sistem ini dirancang pada tahun 2005 untuk menciptakan pendidikan kedokteran bertaraf internasional. Dengan mengusung konsep SPICES (Student Centered, Problem Based, Integrated, Community Based, Elective, Systematic), pendidikan di FKUI dibagi atas 3 tahapan, yaitu tahap pendidikan umum kedokteran (general education), tahap ilmu kedokteran terintegrasi (integrated medical sciences), serta tahap praktik klinik (practical sciences). Setiap tahap tersebut terdiri dari beberapa modul.

Tahap pendidikan umum kedokteran (general education) dilaksanakan pada semester 1. Tahap ini tergolong fase paling menyenangkan sepanjang kuliah di FKUI. Mahasiswa belum terpapar dengan ilmu-ilmu kedokteran yang rumit dan masih bisa santai sejenak sembari beradaptasi dengan lingkungan kampus.

Memasuki semester 2, mahasiswa mulai diperkenalkan dengan modul-modul kedokteran terintegrasi. Hal itu akan terus berlanjut sampai semester 6. Setiap modul berlangsung kurang lebih enam minggu dan membahas sistem tubuh yang berbeda. Jangka waktu tersebut sudah termasuk dua kali ujian yang biasanya dilaksanakan pada minggu ketiga dan keenam. Dengan kata lain, mahasiswa harus menghadapi ujian setiap tiga minggu sekali. Tragis bukan? Itulah sebabnya mengapa mencicil menjadi cara yang paling efektif jika ingin mendapat manfaat dari ilmu yang telah dipelajari.

Lepas dari masa preklinik, mahasiswa kemudian memasuki jenjang yang lebih sulit, yaitu tahap klinik atau lazim disebut koas. Selama dua tahun, mahasiswa akan belajar di beberapa rumah sakit pendidikan, seperti RSCM, RS Harapan Kita, RS Persahabatan, RSUD Tangerang, dan masih banyak lagi. Ada puluhan departemen yang harus dilalui oleh mahasiswa. Waktu pembelajaran di setiap stase berbeda, mulai dari 3 minggu sampai 9 minggu. Meskipun tahap klinik jauh lebih melelahkan, masa-masa ini merupakan saat yang paling  berharga bagi mahasiswa kedokteran. Selain ‘hampir’ bisa merasakan pengalaman menjadi dokter sungguhan, kita juga akan berhubungan langsung dengan pasien. Itulah yang membuat kehidupan seorang koas menjadi lebih dinamis dan berwarna.

Setelah lima tahun menempuh pendidikan dan mengikrarkan sumpah dokter, seorang lulusan FKUI belum bisa menikmati gelarnya. Ia masih harus menghadapi satu tahun internship di daerah-daerah terpencil. Selain sebagai bentuk pengabdian masyarakat, program ini merupakan sarana pembelajaran bagi dokter-dokter yang baru meraih gelarnya. Belajar lagi? Ya, tentu saja! Ingatlah, ketika kita telah mantap memutuskan untuk menjadi mahasiswa kedokteran, berarti kita juga siap untuk terus belajar hingga akhir usia!

Anak FK Juga Manusia

Banyak yang beranggapan bahwa mahasiswa FK identik dengan kacamata tebal, rambut klimis, atau kemeja yang terkancing hingga kerah. Tapi, benarkah demikian? Coba saja mampir ke FKUI dan anggapan itu akan langsung terpatahkan. Mahasiswa-mahasiswa FKUI sungguh jauh dari kesan kutu buku. Meskipun terdapat peraturan mengenai tata karma berpakaian dari dekanat, tapi hal itu tidak lantas membuat mahasiswa FKUI memiliki penampilan yang ajaib. Setiap kuliah, mahasiswa hanya diperkenankan mengenakan pakaian formal. Kemeja dan celana bahan untuk mahasiswa serta kemeja, rok, atau celana bahan untuk para mahasiswi. Intinya, tidak ada kaus apalagi jeans yang bisa berkeliaran dengan bebas di lingkungan kampus. Peraturan tersebut dibuat agar mahasiswa kedokteran terbiasa berpakaian rapi hingga menjadi dokter nanti. Penampilan yang baik bisa menimbulkan citra positif di mata pasien.

Selain masalah penampilan, orang-orang juga kerap salah kaprah mengenai kegiatan mahasiswa kedokteran. Biasanya mahasiwa FK selalu dikaitkan dengan tumpukkan buku tebal dan predikat antisosial (ansos). Nyatanya, hampir 90% mahasiswa FKUI adalah ‘kura-kura’. Hanya sedikit sekali mahasiswa yang memilih untuk menjadi ‘kupu-kupu’. Istilah ‘kura-kura’ dan ‘kupu-kupu’ ini memiliki maksud tersendiri. Kura-kura, yang merupakan singkatan dari kuliah-rapat kuliah-rapat, merupakan julukan bagi para aktivis kampus. Sesuai namanya, mahasiswa tipe ini biasanya tidak bisa langsung meninggalkan kampus begitu kuliah usai. Masih banyak hal yang harus dilakukan di kampus, misalnya rapat organisasi. Di sisi lain, mungkin ada pula mahasiswa yang lebih memilih untuk fokus di bidang akademik. Mahasiswa jenis ini biasanya langsung tidak terlihat batang hidungnya begitu waktu belajar selesai, alias kuliah-pulang kuliah-pulang atau ‘kupu-kupu’.

Akan tetapi, sedikit sekali mahasiswa yang memilih tidak aktif dalam kehidupan nonakademik kampus. Hal itu mungkin disebabkan karena kesadaran yang tinggi akan pentingnya organisasi. Dengan mengikuti berbagai organisasi, seorang mahasiswa bisa melatih dan mengembangkan soft skills yang tentu tidak didapatkan dari kuliah, misalnya kemampuan manajerial, komunikasi efektif, sampai kepemimpinan. Semua manfaat tersebut akan sangat berguna, bukan hanya untuk saat ini melainkan juga di masa depan. Ketika sudah menjadi dokter dan mengabdi pada masyarakat, modal ilmu yang tinggi saja tidak akan berhasil bila tidak didukung soft skills yang apik.

FKUI memfasilitasi mahasiswanya yang haus akan keinginan berorganisasi. Di kampus ini, terdapat lebih dari 10 organisasi dengan spesifikasi kompetensi yang berbeda-beda. Semua badan kelengkapan mahasiswa tersebut memiliki kelebihan masing-masing. Ada yang berkecimpung di dunia penelitian, perfilman, fotografi, pengabdian masyarakat, jurnalistik skala nasional, dan masih banyak lagi. Keberadaan organisasi-organisasi tersebut pastinya bisa mengakomodasi minat dan bakat mahasiswa FKUI.

Seperti kaum muda lainnya, tentu saja mahasiswa FKUI memerlukan hiburan di tengah-tengah rutinitas yang berat. Tenang saja, ada cukup waktu untuk menyegarkan otak sejenak dengan hal-hal yang menyenangkan. DI FKUI terdapat beragam jenis seminat, sejenis ekstrakulikuler, yang bisa menjadi wadah penyaluran bakat dan minat. Ada berbagai klub olahraga dan juga kesenian yang terbuka bagi semua mahasiswa.

Kuliah di FKUI tidak melulu berkutat dengan buku, mikroskop, atau bahkan kadaver. Banyak sisi lain yang menyenangkan untuk digali. Jadi, jangan takut kehilangan masa muda yang cerah ceria di FKUI!

* * *

                Hampir tiga tahun lebih aku menjajaki dunia kemahasiswaan yang penuh dinamika ini. Bergulat dengan segala peluh, berkawan dengan keluh. Kini, giliran kalian yang berjuang meraih cita-cita itu. Kepenatan sudah pasti mampir menghampiri. Kegagalan mungkin juga kau temui. Tapi, yakinlah, selalu akan ada terang cahaya di tengah belantara gulita. Selalu akan ada harapan bagi mereka yang berusaha. Bekerja sekeras-kerasnya sekarang, agar nanti kamu bisa memetik hari yang kau impikan itu. Carpe diem, quam minimum credula postero.

-Racauan ini kemudian dimuat di buku Bimbingan Tes Alumni (BTA), sebuah bimbel yang cukup ternama di Jakarta. Semoga bisa membantu memotivasi adik-adik SMA yang sedang bergulat menambahkan kata ‘maha’ di depan status ‘siswa’ mereka-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: