Bakti yang Tiada Bertepi

1 Jan

In Memoriam                       

Prof. DR. Dr. Sri Oemijati, MPHTM

Pagi itu, muram menyelimuti wajah fakultas. FKUI kehilangan salah seorang putri terbaiknya. Prof. DR. Dr. Sri Oemijati, MPHTM meninggalkan kita pada pertengahan April lalu.

Pakar bidang Parasitologi ini berpulang ke pangkuan Sang Khalik pada hari Minggu 11 April 2010. Kepergian Prof. Oemi tak pelak lagi mengguratkan duka yang sangat mendalam, tidak hanya bagi orang yang mengenalnya tetapi juga bagi dunia kedokteran Indonesia. Sosok kelahiran Jakarta, 12 Juni 1925 ini memang sudah tidak asing bagi pihak-pihak yang berkecimpung di ranah kedokteran nasional. Nama Prof. Oemi telah dikenal luas sejak keberhasilannya dalam menemukan cacing filaria baru yang diberi nama Brugia timori.

Semenjak menjadi bagian dari Departemen Parasitologi FKUI, Prof. Oemi memang telah banyak memberikan sumbangsih yang sungguh berarti. Kiprah beliau di bidang parasitologi berawal pada tahun 1952. Prof. Oemi yang ketika itu masih menjadi mahasiswa kedokteran tingkat empat, ditunjuk menjadi asisten Bagian Parasitologi FKUI. Ketika mengemban jabatan tersebut, Prof. Oemi terbiasa untuk mengajar mahasiswa-mahasiswa lainnya. Tidak hanya aktif menjadi akademisi, beliau pun turut berpartisipasi dalam berbagai penelitian yang diadakan. Hingga saat terakhirnya, hampir seluruh propinsi di nusantara telah ia jelajahi guna melakukan penelitian.

Menilik perjalanan karir Prof. Oemi tidak ubahnya seperti membaca kisah yang tak dinyana. Bagaimana tidak? Prof. Oemi telah menyelesaikan pendidikan S2 serta mendapat promosi gelar doktor (S3) bahkan sebelum beliau melafalkan sumpah dokternya. Tidak lama selepas menyandang predikat dokter, beliau langsung diberikan amanah untuk menjadi Kepala Bagian Parasitologi FKUI. Akhirnya, pada tahun 1964 Prof. Oemi memperoleh gelar guru besar di usianya yang baru menginjak 39 tahun.

Pencapaian lain yang tidak kalah memukau adalah produktivitasnya dalam membuat karya tulis ilmiah. Beliau tercatat telah menghasilkan lebih dari 156 karya tulis, 70 di antaranya adalah tentang filariasis. Berbicara mengenai filariasis, Prof. Oemi memang menaruh perhatian yang cukup besar terhadap penyakit tersebut. Selain senantiasa melakukan penelitian mengenai penyakit infeksi itu,  sejak tahun 1966 beliau juga menjadi anggota Filariasis Expert Committee, sebuah lembaga yang menjalin kerja sama dengan WHO.

Berbagai penghargaan, baik dari tingkat nasional maupun internasional, menjadi bukti betapa beliau tidak bisa dipisahkan dari ilmu pengetahuan. Sepanjang hidupnya, Prof. Oemi telah menerima sebanyak sepuluh penghargaan yang berasal dari dalam dan luar negeri. Beberapa apresiasi yang pernah diberikan kepadanya adalah penghargaan Ksatria Bakti Husada Aditiya dari Departemen Kesehatan RI dan Best research among the student dari Tulane University, tempat beliau memperoleh gelar Master Public Health Tropical Medicine.

Jejak langkah Prof. Oemi di negara-negara asing tidak disangsikan lagi. Sejak tahun 1968 hingga akhir masa baktinya, beliau aktif memberikan kuliah di Kuala Lumpur, Bangkok, dan Manila. Tidak hanya itu, beliau turut serta melakukan seleksi terhadap peserta kursus-kursus SEAMEO. Menghadiri pertemuan ilmiah berskala internasional pun tidak luput dari agenda kerjanya sehari-hari.      Kecintaan Prof. Oemi terhadap dunia kedokteran tercermin dari kegigihannya yang tidak pernah luntur. Setelah purnabakti, Prof. Oemi masih tetap setia berkecimpung dalam aspek kesehatan. Hal tersebut tampak dari kegiatan-kegiatan yang ia lakukan. Pada tahun 1976, beliau menjadi WHO Regional Committee for Medical Research yang mengurus perihal penelitian di bidang kedokteran. Di samping itu, beliau juga tetap menunjukkan bakti kepada almamaternya. Prof. Oemi sempat menjadi Ketua Panitia Etik Penelitian di FKUI pada tahun 1984.

Terlepas dari semua yang telah beliau lakukan dalam bidang pendidikan dan penelitian, Prof. Oemi tidak pernah melupakan kontribusinya untuk pengabdian masyarakat. Seiring dengan perjalanannya ke pelosok-pelosok untuk melakukan penelitian, beliau sekaligus membaktikan diri bagi kesehatan masyarakat setempat. Pribadinya yang supel serta tidak pandang bulu membuat beliau mudah membina hubungan baik dengan penduduk lokal. Sekali waktu, ketika ia pergi ke Pulau Buru, para transmigran yang pernah ditanganinya berkata, “Jika ibu Prof tidak datang lagi, kami bagaimana?”

Beliau memang menaruh perhatian yang sangat besar terhadap kondisi kesehatan masyarakat Indonesia. Yang selalu ada di benaknya adalah impian untuk membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sehat, jauh dari penyakit khususnya infeksi parasit. Karena kontribusinya yang sangat besar, tidak mengherankan apabila Departemen Kesehatan memberikan sebutan “aset negara” bagi beliau. Prof. Oemi memang pantas mendapat gelar tersebut. Tidak banyak dokter-dokter yang memberikan perhatian ekstra terhadap masalah kesehatan negara, apalagi sampai menjalankan puluhan penelitian ke pelosok daerah.

Ketulusan Prof. Oemi dalam menyehatkan bangsa seakan diamini oleh rekan sejawatnya, Prof. dr. Sri Margono, SpParK, salah satu guru besar FKUI yang juga mitra kerja Prof. Oemi. Setelah menghabiskan sekian tahun bersama di Departemen Parasitologi FKUI, Prof Sri cukup mengenal kepribadian Prof. Oemi. Menurut Prof. Sri, selama karirnya Prof. Oemi selalu hidup untuk fakultas. “Beliau senantiasa membaktikan diri untuk kemajuan fakultas dan almamater,” ungkap Prof. Sri.

Prof. Sri menilai Prof. Oemi sebagai pribadi yang tegas ketika berurusan dengan pekerjaan. Namun, di sisi lain beliau merupakan sosok yang baik hati dan lembut. Karena sifat itulah Prof Oemi dikenal memiliki banyak sahabat, baik dari Departemen Parasitologi maupun di lintas departemen. Prof. Sri ingat betul bahwa Prof. Oemi tidak pernah lupa untuk melakukan open house bagi seluruh civitas FKUI setiap hari raya Idul Fitri. Hal tersebut dilakukan oleh beliau dengan tujuan agar menjaga tali silahturahmi di antara warga fakultas.

Memori yang hingga kini terus terpatri dalam ingatan Prof. Sri adalah gurauan yang selalu dilontarkan oleh Prof. Oemi jika bertemu dengan dirinya. “Beliau selalu memanggil saya dengan sebutan tye, bahasa Belanda yang berarti adik kecil,” kenang Prof. Sri. Usia Prof. Sri dan Prof. Oemi memang terpaut enam tahun. Oleh karena itulah, Prof. Oemi menggangap Prof. Sri sebagai adik yang lebih muda.

Kenangan lain yang masih membekas di benak Prof. Sri adalah ketika mereka bercakap-cakap dalam keseharian. Akibat pengaruh bahasa Belanda yang didapatkan ketika masih bersekolah dulu, tidak jarang mereka berkomunikasi menggunakan bahasa asing itu. Ada satu ungkapan dalam bahasa Belanda yang sekaligus menjadi julukan bagi Prof. Oemi, yaitu krakende wagens deeren het langst. Sebutan itu diberikan kepada Prof. Oemi bukan tanpa alasan. Menurut Prof. Sri, jika diindonesiakan, ungkapan itu berarti “ bunyi kereta yang tahan paling lama”. Hal tersebut berkaitan dengan kondisi fisik Prof. Sri yang memang sebenarnya tidak terlalu baik, namun beliau tetap giat menjalankan segala kegiatannya. Semangat dan kegigihan semacam itulah yang sudah sepatutnya kita teladani.

Satu hal yang dikagumi Prof. Sri dari sosok Prof. Oemi adalah kesederhanaannya. Meskipun menyandang predikat guru besar, keseharian beliau sungguh jauh dari kemewahan. Dalam berkarir, Prof. Oemi tidak pernah memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Karya-karyanya beliau dedikasikan kepada fakultas.  Kesederhanaan itu pun diwujudkan dengan penghibahan rumah milik beliau kepada FKUI untuk dialokasikan sebagai dana penelitian mahasiswa.

Itulah Prof. Oemi. Sosok yang tidak pernah kenal lelah dalam berkarya, lagi-lagi bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk kepentingan khalayak. Terima kasih Prof. Oemi, atas semangat pengabdian yang tidak pernah padam. Terima kasih, untuk semua usahamu dalam meretas asa bagi terciptanya bangsa yang sehat. Selamat jalan guru, baktimu adalah teladan kami.cinthya.

 

Kilas Obituari            

Prof. DR. Dr. Sri Oemijati, MPHTM meninggal tanggal 11 April dalam usia 85 tahun

-Buletin Dewan Guru Besar Edisi 2010-

4 Tanggapan to “Bakti yang Tiada Bertepi”

  1. ikhsan maulana 30 April 2012 pada 9:54 pm #

    terima kasih atas kilas orbituari eyang kami tercinta, saya baru mengetahui sisi lain eyang yang tidak kami kenal

  2. DHa Altruismus 29 Mei 2013 pada 10:50 am #

    pagi sist
    aq mau nanya donk
    buku yg dikarang sm Prof. DR. dr. Sri Oemijati thn 2007 tntang parasit judul’e apa ya sist?
    share donk
    thx

    • cinthyayuanita 30 Mei 2013 pada 9:37 pm #

      Halo..
      wah mohon maaf sekali kebetulan saya sendiri tidak tahu ttg buku tersebut. Mungkin kalau sudah ketemu boleh di-share🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: