Hippocrates’ Epic Fail

29 Jan

Kami adalah ko-asisten, bukan cenayang yang bisa membaca kemauan para pembesar.

Yang kami baca adalah textbook kedokteran, bukan buku primbon tentang cara menerawang sifat manusia.

Kami diajari untuk melayani pasien, bukan meladeni mood pengajar yang mudah berubah setiap detiknya. 

Kegagalan epik dalam dunia kedokteran, menurut saya, adalah ketika Hipocrates membuat sumpah dokter yang hanya fokus pada bagaimana murid memperlakukan guru. Dan tidak sebaliknya.

Sebuah kekecewaan terhadap kesewenang-wenangan yang kerap dialami oleh mahasiswa.

Ketika membuat sumpah dokter, mungkin Hipocrates lupa bagaimana pahitnya menjadi seorang murid yang seringkali harus tunduk pada  kata “senioritas”.

Atau…mungkin di zaman itu tidak ada hierarki yang membatasi derajat guru dan murid. Murid menghormati gurunya, dan berlaku sebaliknya. Murid, sebagai manusia, juga memiliki hak untuk dihormati dan dihargai. Mungkin di masa itu tidak ada tekanan, tidak ada pengabaian, tidak ada tindakan merendahkan, tidak ada umpatan. Mungkin di masa itu, para guru memiliki alam emosi yang jauh lebih stabil. Mungkin …

Siapapun, ingatkan saya, ketika saya menua nanti, saya akan menganggap para murid sebagai anak saya sendiri, sama seperti saya akan selalu mengganggap para guru sebagai orang tua kandung (biar bagaimanapun perlakuan mereka di masa dahulu).

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: